SOE, TTS – Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi menggandeng Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT untuk menggelar Workshop dan Sarasehan, serta Festival Pangan Lokal dan Seni Budaya di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten TTS, Jumat–Sabtu, 19–20 September 2025. Agenda ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus melestarikan seni dan budaya masyarakat Timor.
Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi, S.H., M.H., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, tentang peningkatan swasembada pangan. “Kementerian Kebudayaan hadir langsung di tengah masyarakat untuk mendukung kemandirian pangan melalui pendekatan budaya pangan,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi langkah Pemkab TTS yang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah memasukkan Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) pangan lokal di sekolah-sekolah.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Haris Bidiharto, S.S., M.Hum., menambahkan, kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan dalam menjaga pangan lokal sekaligus melestarikan seni dan budaya dari generasi ke generasi. Dukungan juga datang dari Ketua Komisi I DPRD TTS, Marten Natonis, yang menilai Festival di Desa Boti membawa manfaat besar bagi masyarakat. Ia mengapresiasi Pemerintah Desa Boti atas Peraturan Desa (Perdes) yang mewajibkan pemilik ternak mengandangkan hewan peliharaan. “Perdes ini sangat membantu petani. Mereka tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk pagar kebun karena ternak dibiarkan bebas. Ini mendukung swasembada pangan lokal,” tegasnya.
Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, melalui sambutan yang dibacakan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Musa S. Benu, menyebut pangan lokal sebagai warisan leluhur sekaligus simbol identitas masyarakat Timor. “Jagung bukan sekadar makanan pokok, tetapi lambang persatuan, kerja keras, dan ketangguhan orang Timor,” katanya. Ia menilai tema “Merajut Pangan Lokal, Seni, dan Budaya” tepat karena menggambarkan proses menyatukan akar, jiwa, dan rumah budaya masyarakat.
Bupati berharap Festival ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian identitas, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi kreatif dan daya tarik wisata berkelanjutan. “Festival ini langkah kecil, tapi bermakna besar. Saya berharap menjadi agenda tahunan yang lebih besar, kreatif, dan berdampak positif, khususnya bagi generasi muda agar semakin mencintai pangan lokal, seni, dan budaya daerah,” pungkasnya. (sys/ST)
Editor: Agus S

