TTS – Harapan baru bagi anak-anak kurang mampu di Timor Tengah Selatan (TTS) hadir lewat uluran tangan Asia Pacific Children Fund (APCF). Organisasi sosial internasional yang berbasis di Amerika Serikat ini resmi memperluas program beasiswa dan bantuan makanan ke TTS sejak Agustus 2025.
APCF, yang telah lebih dari satu dekade aktif di kawasan Asia, selama ini dikenal konsisten membantu ribuan anak di India, Filipina, Nepal, Myanmar, hingga Indonesia. Bentuk bantuannya mencakup penyediaan pangan, tempat tinggal layak, serta beasiswa pendidikan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Managing Director APCF, Jonathan Scott Mcalvany, menegaskan alasan pemilihan TTS sebagai daerah penerima program. “Kami melihat persoalan gizi, kesehatan, dan pendidikan masih menjadi tantangan besar bagi masa depan anak-anak di TTS. Karena itu, APCF hadir bukan hanya untuk memberi bantuan, tetapi juga untuk menumbuhkan harapan dan kesempatan bagi mereka agar bisa menggapai cita-cita,” ungkapnya.
Pelayanan APCF dijalankan melalui sistem orang tua asuh. Skema ini melibatkan individu atau keluarga lokal yang bersedia mendampingi dan mengasuh anak-anak penerima manfaat. Orang tua asuh bertugas memberikan kasih sayang, teladan, serta pembinaan moral. Sementara itu, APCF menyalurkan dana bulanan untuk mencukupi kebutuhan makanan, kesehatan, dan pendidikan.
Lesly Anye, S.H., Ketua Yayasan Lukas Banu Peduli, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan APCF kepada yayasannya sebagai mitra implementasi program di TTS. “Kami bersyukur karena kerja sama ini bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga membangun semangat baru bagi anak-anak di TTS. Harapannya, semakin banyak anak yang bisa terbantu dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, APCF telah memfasilitasi berdirinya children home pertama di Kecamatan Kot’Olin. Program ini dijalankan bersama orang tua asuh Bapak Miyukilida Banu (Miki Banu), seorang guru SMP setempat.
Miki Banu menuturkan bahwa tantangan pendidikan di pedesaan TTS sangat kompleks. “Jarak tempuh yang jauh, akses jalan yang sulit, serta minimnya fasilitas belajar sering membuat anak-anak kehilangan semangat. Karena itu, program ini sangat berarti bagi mereka. Saya berharap akan ada children home lainnya di TTS agar semakin banyak anak yang bisa merasakan kasih dan perhatian melalui pola orang tua asuh seperti ini,” harapnya.
Program kolaborasi APCF dengan Yayasan Lukas Banu Peduli diharapkan menjadi tonggak perubahan nyata di TTS. Dengan dukungan lintas benua, anak-anak diharapkan tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter, sekaligus membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah. (Sys/ST)
Editor: Agus S

