spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gula Lempeng Tuasene Tembus Pasar Nasional hingga Ekspor, DPRD TTS Dorong Pembangunan Rumah Produksi

SOE, TTS — Produk lokal Gula Lempeng Tuasene asal Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kembali mencatat capaian membanggakan. Berangkat dari produksi tradisional berbasis kearifan lokal, gula lempeng yang kini dikenal sebagai Gula Merah Tuasene berhasil menembus pasar nasional hingga ekspor ke luar negeri.

Keberhasilan tersebut mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua Komisi I DPRD TTS, Yerim Yos Fallo. Ia menilai capaian ini sebagai bukti konkret bahwa produk UMKM lokal TTS memiliki kualitas dan daya saing untuk bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.

“Saya bahagia dan bangga. Gula Lempeng Tuasene yang kini menjadi Gula Merah Tuasene sudah tembus pasar nasional dan ekspor. Ini menandakan produk lokal TTS sudah diakui kualitasnya,” tegas Yerim, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, keberhasilan Gula Merah Tuasene harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat di wilayah Mollo Selatan. Ia mendorong para pengrajin untuk terus meningkatkan kapasitas produksi karena terbukti memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

“Terus maju bapak mama pengrajin. Produksi gula lempeng ini bukan hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Yerim menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan pembangunan rumah produksi melalui dukungan pemerintah. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjamin proses produksi yang lebih higienis, berstandar, dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Ia juga memberikan apresiasi kepada tim akademisi dari Universitas Brawijaya dan Politeknik Negeri Kupang, khususnya kepada Hapsah dan Yanes Kevin Sae, yang selama ini aktif mendampingi para pelaku UMKM dan pengrajin gula lempeng di Tuasene.

“Pendampingan tenaga profesional sangat menentukan. Inilah kolaborasi yang harus terus diperkuat agar UMKM kita tidak berjalan sendiri,” katanya.

Sementara itu, salah satu pengrajin mengungkapkan bahwa usaha gula lempeng telah dijalankan secara turun-temurun dan sebelumnya hanya dipasarkan di wilayah TTS serta Kota Kupang. Melalui pendampingan akademisi, kualitas produk terus ditingkatkan hingga akhirnya mampu menembus pasar nasional.

“Kami sudah lama produksi, tapi baru sekarang bisa tembus pasar nasional. Ini berkat bimbingan dari Universitas Brawijaya dan Poltek Kupang,” ujarnya.

Para pengrajin berharap pemerintah daerah segera memperkuat dukungan kebijakan dan fasilitas produksi agar Gula Lempeng Tuasene benar-benar menjadi ikon ekonomi baru Kabupaten Timor Tengah Selatan dan mampu berkelanjutan di pasar nasional maupun internasional. (Sys/ST)

Most Popular