Literasi merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan dan peradaban bangsa. Namun, dalam praktiknya, berbagai program literasi yang digulirkan di sekolah sering kali berhenti sebagai agenda administratif. Spanduk terpasang, jadwal tersusun, tetapi minat baca dan tulis peserta didik tak kunjung tumbuh signifikan. Salah satu sebab utamanya adalah absennya keteladanan nyata. Di sinilah peran guru menjadi kunci: menyalakan literasi sekolah bukan lewat instruksi, melainkan melalui contoh hidup sehari-hari.
Guru sejatinya bukan sekadar penyampai materi pelajaran, tetapi figur sentral yang membentuk kebiasaan dan cara berpikir peserta didik. Apa yang dibaca guru, bagaimana ia berbicara, menulis, serta menyikapi informasi akan menjadi cermin bagi siswa. Literasi, dengan demikian, tidak cukup diajarkan dalam bentuk teori atau program, tetapi harus diperagakan dalam tindakan konkret.
Keteladanan literasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, namun konsisten. Guru yang terbiasa membaca buku sebelum pelajaran dimulai, mengaitkan materi ajar dengan bacaan yang relevan, atau menulis catatan reflektif bersama siswa sedang mengirimkan pesan kuat: membaca dan menulis adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Dari kebiasaan kecil inilah minat literasi peserta didik tumbuh secara alami, tanpa paksaan.
Di era digital, tantangan literasi semakin kompleks. Peserta didik hidup dalam arus informasi yang deras, di mana fakta dan hoaks kerap bercampur tanpa batas. Dalam konteks ini, guru dituntut tidak hanya literat baca-tulis, tetapi juga literat digital. Guru yang mampu memverifikasi sumber, berpikir kritis, serta berbahasa santun di ruang digital akan membimbing siswa menjadi pengguna informasi yang cerdas dan bertanggung jawab. Inilah bentuk literasi yang relevan dengan tantangan zaman.
Budaya literasi sekolah juga tidak mungkin tumbuh tanpa keterlibatan aktif guru dalam berbagai kegiatan literasi. Program pojok baca, majalah dinding, jurnal harian, hingga kelas menulis akan kehilangan makna jika guru hanya berperan sebagai pengawas. Sebaliknya, ketika guru terlibat langsung membaca bersama, menulis bersama, dan mengapresiasi karya siswa, sekolah akan menjelma menjadi ruang yang hidup, tempat literasi menjadi kebiasaan kolektif.
Keteladanan literasi guru sejatinya merupakan investasi jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak terlihat secara instan, tetapi perlahan membentuk generasi yang gemar belajar, berpikir kritis, dan memiliki kepekaan sosial. Guru yang konsisten membaca dan menulis sedang menanam benih peradaban melalui pendidikan.
Menyalakan literasi sekolah tidak selalu memerlukan program yang rumit atau anggaran besar. Ia membutuhkan keberanian dan komitmen guru untuk menjadi contoh. Sebab, literasi yang tumbuh dari keteladanan akan jauh lebih kuat dibanding literasi yang hanya tertulis dalam kebijakan dan slogan.
Oleh: Lefinus Asbanu
Penulis adalah jurnalis isu pendidikan dan literasi. Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Timor Tengah Selatan, penggerak literasi daerah bersama Nyalanesia, serta Kepala Biro YASPENSI Kabupaten Timor Tengah Selatan.

