spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gen-Z dan Tantangan Pengenalan Budaya yang Hampir Dilupakan

Oleh: Yacob Petrus Nalle

Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, generasi Z-mereka yang lahir dan tumbuh bersama teknologi menghadapi tantangan besar dalam mengenal, memahami, dan merawat budaya lokal. Ironisnya di era yang serba terkoneksi ini justru banyak nilai budaya, tradisi, bahasa daerah, dan kearifan lokal yang perlahan terlupakan.

Gen-Z hidup dalam dunia yang ditentukan oleh algoritma media sosial, tren global, dan budaya populer lintas negara. Musik, fashion, gaya hidup, hingga cara berpikir lebih banyak dipengaruhi oleh budaya luar. Tanpa disadari hal ini membuat jarak antara generasi muda dan akar budayanya sendiri semakin lebar.

Budaya yang Kian Terpinggirkan

Salah satu tantangan utama adalah minimnya ruang budaya di kehidupan sehari-hari Gen-Z. Bahasa daerah mulai jarang dipakai, upacara adat hanya hadir sebagai formalitas, dan cerita-cerita rakyat tergantikan oleh konten viral yang cepat dilupakan. Banyak anak muda tahu tren K-Pop atau influencer luar negeri tetapi tidak mengenal tarian, musik, atau sejarah kampung halamannya sendiri.

Sekolah dan keluarga seharusnya menjadi ruang pertama pengenalan budaya. Namun sistem pendidikan. sering terlalu fokus pada capaian akademik, sementara muatan lokal dianggap sekadar pelengkap. Di rumah pun orang tua kadang lebih sibuk mengejar ekonomi daripada mewariskan nilai-nilai budaya.

Antara Identitas dan Modernitas

Gen-Z sesungguhnya bukan generasi yang anti-budaya hanya saja mereka hidup dalam realitas yang serba cepat dan visual. Tantangannya adalah bagaimana membuat budaya relevan dengan dunia mereka. Budaya tidak boleh diposisikan sebagai sesuatu yang kuno, kaku, dan membosankan tetapi sebagai identitas yang membanggakan dan kontekstual.

Di sinilah pentingnya inovasi karena budaya bisa dikemas lewat beberapa hal seperti musik modern, film pendek, konten kreatif, fashion, dan platform digital. Anak muda akan lebih mudah mencintai budayanya jika ia hadir dalam format yang mudah untuk mereka pahami dan nikmati.

Peran Negara, Komunitas, dan Anak Muda

Negara perlu hadir melalui kebijakan yang mendorong pendidikan berbasis budaya dan perlindungan warisan lokal. Komunitas adat dan pelaku seni harus diberi ruang dan dukungan agar tetap hidup dan produktif. Sementara itu Gen-Z sendiri harus diposisikan bukan sebagai objek tetapi sebagai subjek pelestarian budaya.

Menjadi modern tidak berarti harus tercerabut dari akar. Justru di tengah dunia yang seragam seharusnya identitas lokal adalah kekuatan. Gen-Z perlu diajak untuk melihat budaya bukan sebagai beban masa lalu tetapi sebagai bekal masa depan.

Tantangan pengenalan budaya di kalangan Gen-Z bukan semata soal lupa tetapi soal arah. Jika kita ingin generasi muda tumbuh dengan jati diri yang kuat maka budaya harus dihadirkan secara kreatif, relevan, dan membumi. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang maju teknologinya tetapi yang mampu menjaga jiwanya. (*)

Most Popular