spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

KPU NTT Bahas Peran Perempuan dalam Demokrasi Lewat Diskusi KoPi ParMas Part 11

KUPANG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali menggelar Diskusi Tematik Kita Ngobrol Pemilu, Demokrasi & Partisipasi Masyarakat (KoPi ParMas) Part 11 secara daring, Rabu (11/2/2026).
Diskusi mingguan ini mengangkat tema “Representasi dan Peran Perempuan dalam Proses Demokratisasi.”

Kegiatan dibuka oleh Ketua KPU Provinsi NTT, Jemris Fointuna, didampingi Anggota KPU Lodowyk Fredrik, Baharudin Hamzah, Elyaser Lomi Rihi, dan Petrus Kanisius Nahak, serta Pelaksana Harian (Plh.) Kasubag Hukum dan SDM, Linda Benyamin.

Dalam sambutannya, Jemris menegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam proses politik masih perlu ditingkatkan. Ia berharap forum KoPi ParMas menjadi ruang refleksi dan pertukaran gagasan guna merumuskan langkah strategis dalam memperkuat partisipasi perempuan pada pemilu mendatang.

Diskusi Part 11 menghadirkan narasumber Fatimah, Anggota KPU Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Lahajimu, Anggota KPU Kabupaten Sikka.

Keduanya memaparkan secara konseptual peran perempuan dalam politik yang masih menghadapi tantangan budaya patriarki dan stigma perempuan sebagai pekerja domestik. Menurut mereka, penguatan politik perempuan penting agar pemilu yang inklusif, adil, dan setara dapat terwujud.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama peserta yang dipandu oleh moderator Kasubag Hukum dan SDM KPU Kabupaten Sumba Timur, Scherlina Snak.

Di akhir diskusi, Anggota KPU Provinsi NTT Elyaser Lomi Rihi dan Petrus Kanisius Nahak menyoroti bahwa keterwakilan perempuan dalam demokrasi elektoral masih belum optimal. Mereka juga menilai partai politik belum maksimal dalam mendorong kaderisasi perempuan.

Sementara itu, Baharudin Hamzah menegaskan adanya pergeseran paradigma terkait perempuan di NTT yang selama ini dipandang berada dalam budaya patriarki.

Menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa figur perempuan justru mampu lolos sebagai politisi di parlemen meski berada di basis elektoral yang kuat dengan budaya patriarki.(Sys/ST).

Most Popular