spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pengamat: RI Harus Siaga Hadapi Dampak Perang Global

KUPANG – Dinamika konflik global, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Pemerintah Indonesia diminta tidak menunggu dampak membesar sebelum mengambil langkah antisipatif.

Pengamat ekonomi regional, Dr. James Adam, menegaskan pemerintah perlu segera menyusun langkah strategis lintas kementerian guna meredam dampak geopolitik terhadap perekonomian nasional.

“Antisipasi harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu dampak membesar baru kemudian mengambil tindakan. Koordinasi lintas kementerian dan pemantauan ekonomi global secara real time menjadi kunci agar respons kebijakan cepat dan tepat sasaran,” ujarnya kepada ANTARA di Kupang, Senin (3/3/2026).

Menurut James, ketidakpastian global akibat konflik tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan, sektor energi, hingga arus keuangan internasional. Indonesia, meski secara geografis jauh dari lokasi konflik, tetap akan terdampak melalui jalur perdagangan dan sistem keuangan global.

Ia menekankan pentingnya penguatan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan agar mampu meredam gejolak eksternal.

“Kebijakan yang disiapkan bisa berupa penguatan cadangan energi, pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, hingga perlindungan sektor-sektor produktif yang rentan terdampak,” jelasnya.

James menilai perang AS-Iran pasti berdampak pada perdagangan internasional karena distribusi barang dan jasa akan terganggu. Dampak awal bahkan sudah terlihat dari pembatalan dan penundaan sejumlah penerbangan internasional.

Jika konflik berlanjut, gangguan distribusi global akan semakin meluas dan memicu tekanan terhadap sistem keuangan serta perdagangan internasional. Banyak negara diperkirakan akan menerapkan strategi ekonomi jangka pendek untuk mengamankan kepentingan domestik masing-masing.

“Indonesia walaupun letaknya jauh dari lokasi perang, pasti menerima dampaknya. Perdagangan luar negeri, baik ekspor maupun impor, berpotensi terganggu karena sistem distribusi tertunda,” katanya.

Ia juga mengingatkan potensi lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya produksi dan distribusi energi global. Jika harga minyak naik, efek berantai bisa terjadi terhadap harga emas dan berbagai komoditas lain.

Kenaikan harga minyak, lanjutnya, berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

“Jika harga minyak naik, maka akan berdampak pada harga barang lainnya. Rantai pasok terganggu akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi,” tambahnya.

Karena itu, James menegaskan pemerintah harus menyiapkan strategi komprehensif, terutama dalam kebijakan perdagangan luar negeri jangka pendek, agar tekanan eksternal tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional. (ant/ST)

Most Popular