spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Saya Orang Soe, dan Logat Saya Bukan Bahan Tertawaan

Oleh: Amon Bernabas Tenis, S.Pd

Logat atau dialek merupakan bagian dari identitas yang menandai kekhasan suatu daerah. Melalui logat, seseorang sering kali dapat dikenali asal-usulnya. Di Indonesia, keberagaman bahasa dan dialek merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai.

Salah satu daerah yang menyimpan keragaman tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah provinsi kepulauan di bagian selatan Indonesia yang dikenal dengan kekayaan alam, budaya, agama, suku, serta bahasa daerahnya.

Setiap wilayah di NTT memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi bahasa daerah maupun dialek yang digunakan masyarakatnya. Dialek bukan sekadar cara berbicara. Ia merupakan penanda identitas sosial dan kultural yang menunjukkan dari mana seseorang berasal. Keunikan ini seharusnya menjadi kebanggaan bersama, bukan alasan untuk merendahkan satu sama lain.

Salah satu wilayah di provinsi ini adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan ibu kota Soe. Mayoritas masyarakat di wilayah ini menggunakan bahasa Dawan yang dikenal sebagai Uab Meto. Bahasa ini digunakan secara luas oleh masyarakat Atoin Meto, sebutan bagi orang Timor di bagian barat Pulau Timor.

Sebagai bahasa daerah, Uab Meto memiliki ciri khas tersendiri, terutama dalam hal intonasi dan dialeknya. Kekhasan ini kemudian turut memengaruhi cara masyarakat Soe berbicara ketika menggunakan bahasa Melayu Kupang maupun bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Tanpa disadari, pola intonasi dan logat dari bahasa ibu tetap terbawa dan menjadi bagian alami dari cara seseorang mengekspresikan diri dalam komunikasi.

Namun, keunikan logat yang seharusnya menjadi bagian dari kekayaan budaya justru kerap dipandang berbeda oleh sebagian kalangan, terutama di antara generasi muda di Nusa Tenggara Timur.

Dalam berbagai interaksi sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, kampus, maupun di media sosial, logat dari daerah tertentu sering dijadikan bahan candaan. Bahkan tidak jarang candaan itu berubah menjadi ejekan. Salah satu logat yang cukup sering menjadi sasaran adalah logat masyarakat dari Timor Tengah Selatan atau Soe.

Cara pengucapan yang khas, intonasi yang kuat, serta ritme berbicara yang berbeda sering kali ditiru secara berlebihan hanya untuk memancing tawa.

Pengalaman semacam ini bukan sesuatu yang asing bagi banyak anak muda asal Soe, termasuk saya sendiri. Tidak jarang ketika seseorang bertanya, “Dari mana?”, lalu saya menjawab, “Dari Soe,” respons yang muncul justru tawa disertai tiruan logat yang dilebih-lebihkan, seperti ungkapan: “Ai kaka, Soe mana? Mafena lo…”

Kalimat tersebut mungkin diucapkan dengan maksud bercanda. Namun di balik candaan itu tersimpan stereotip terhadap cara berbicara masyarakat Soe. Logat yang seharusnya menjadi bagian alami dari identitas justru direduksi menjadi bahan lelucon.

Sekilas hal tersebut mungkin dianggap sebagai candaan biasa. Namun bagi mereka yang mengalaminya, ejekan terhadap logat bukanlah sesuatu yang ringan.

Logat adalah bagian dari identitas yang terbentuk sejak seseorang tumbuh dalam lingkungan bahasa dan budaya tertentu. Ketika logat dijadikan bahan olok-olok, yang sebenarnya sedang ditertawakan bukan hanya cara berbicara seseorang, tetapi juga latar belakang budaya yang melekat pada dirinya.

Tanpa disadari, praktik semacam ini dapat menumbuhkan rasa tidak nyaman. Bahkan, sebagian orang bisa merasa perlu menyembunyikan logatnya sendiri agar tidak menjadi bahan ejekan.

Ironisnya, hal ini terjadi di tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan keberagaman.

Di provinsi yang memiliki puluhan bahasa daerah dan beragam dialek ini, seharusnya perbedaan logat dipandang sebagai kekayaan bersama yang memperkaya identitas budaya daerah. Alih-alih saling mengejek, generasi muda justru perlu belajar untuk menghargai setiap perbedaan sebagai bagian dari warisan budaya yang patut dijaga.

Pada akhirnya, logat bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, apalagi dijadikan bahan ejekan. Logat adalah bagian dari perjalanan budaya yang membentuk jati diri seseorang sejak ia tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakatnya.

Di daerah yang kaya akan keberagaman seperti Nusa Tenggara Timur, setiap dialek dan cara berbicara merupakan jejak identitas yang memperkaya mozaik budaya daerah. Ketika kita menertawakan logat seseorang, sesungguhnya kita sedang meremehkan kekayaan budaya kita sendiri.

Karena itu, sudah saatnya generasi muda belajar melihat perbedaan logat dengan cara pandang yang lebih dewasa dan penuh penghargaan. Candaan yang menyangkut identitas kultural sebaiknya tidak lagi dipelihara, sebab tanpa disadari hal tersebut dapat melukai dan menumbuhkan rasa tidak nyaman bagi orang lain.

Sebaliknya, kita perlu membangun ruang pergaulan yang saling menghormati, di mana setiap orang merasa bangga dengan bahasa, dialek, dan latar belakang budayanya.

Menghargai logat berarti menghargai manusia di baliknya.

Jika kita benar-benar ingin menjaga harmoni sosial di Nusa Tenggara Timur, maka langkah paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah berhenti menjadikan perbedaan sebagai bahan olok-olok.

Biarlah setiap logat tetap hidup sebagai penanda asal-usul dan kebanggaan budaya, bukan sebagai alasan untuk merendahkan satu sama lain.

Dengan saling menghargai, kita tidak hanya menjaga perasaan sesama, tetapi juga merawat keberagaman yang menjadi kekuatan bersama. (*)

Most Popular