KUPANG – Peristiwa tragis kembali mengguncang wilayah Kabupaten Kupang. Konflik keluarga yang diduga dipicu persoalan mahar atau belis berujung pada hilangnya nyawa seorang petani di Desa Leloboko, Kecamatan Amfoang Selatan, Rabu (18/3/2026) dini hari.
Korban diketahui bernama Simeon Naitasi (50), yang meninggal dunia setelah terlibat pertikaian dengan adik iparnya, DB (64), di kediaman pelaku.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 00.05 WITA. Saat itu, korban dilaporkan dalam kondisi emosi dan berteriak-teriak dari rumahnya.
Tak lama kemudian, korban berjalan kaki sejauh kurang lebih 60 meter menuju rumah pelaku. Setibanya di lokasi, korban langsung mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi.
Di dalam ruang tamu, pelaku bersama istri dan anaknya sudah berada di tempat. Situasi pun dengan cepat memanas.
Korban diduga mencoba menyerang menggunakan sebuah meja kayu. Namun, pelaku berhasil menahan serangan tersebut dengan tangan kiri dan mendorong balik hingga meja tersebut patah.
Dalam kondisi yang semakin tidak terkendali, pelaku kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah korban sebanyak enam hingga tujuh kali hingga korban terjatuh telungkup ke lantai.
Meski korban telah terjatuh dan tidak berdaya, pelaku diduga masih terus melakukan kekerasan dengan menghantam bagian belakang kepala korban lebih dari lima kali.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, korban sempat membalikkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Dengan napas tersengal, korban mengucapkan kalimat terakhir, “Ini malam katong mati.”
Tak lama setelah itu, korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Mendapatkan laporan warga, aparat dari Polsek Amfoang Selatan yang dipimpin Kapolsek Ipda Andi Gunawan segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).
Petugas langsung mengamankan lokasi serta membawa pelaku DB untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap secara pasti motif dan latar belakang konflik yang terjadi.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya penyelesaian konflik keluarga secara damai, terutama terkait persoalan adat seperti belis, agar tidak berujung pada tragedi yang merenggut nyawa.(Sys/ST).

