Oleh: Lefinus Asbanu, S.Pd.
(Jurnalis, Pegiat, dan Penggerak Literasi)
Ada fenomena menarik di media sosial, khususnya Facebook: semakin samar identitas sebuah akun, semakin berani pula pemiliknya berbicara. Dari balik foto profil kartun dan nama yang tidak dikenal, kata-kata pedas meluncur tanpa rem. Mereka mengkritik, menghina, bahkan menghakimi orang lain dengan penuh keyakinan.
Namun satu hal yang sering hilang dari keberanian itu adalah keberanian paling sederhana: keberanian untuk menunjukkan siapa dirinya.
Dari balik identitas yang samar, mereka tiba-tiba menjadi sangat lantang. Kritik dilontarkan dengan nada kasar, tuduhan dilayangkan tanpa bukti, bahkan sebagian merasa dirinya paling benar. Ironisnya, keberanian itu hanya muncul ketika identitas mereka tersembunyi.
Keberanian yang Lahir dari Persembunyian
Akun anonim sering menjadi tempat yang nyaman bagi mereka yang ingin menyerang tanpa risiko. Di balik layar ponsel, mereka merasa bebas menulis apa saja. Kata-kata pedas dilontarkan tanpa pertimbangan, seolah-olah tidak ada manusia lain di seberang layar yang bisa terluka oleh ucapan itu.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal sederhana: keberanian yang muncul bukanlah keberanian sejati. Itu hanyalah keberanian yang lahir dari persembunyian.
Jika diminta menyampaikan hal yang sama secara langsung, banyak dari mereka kemungkinan besar akan memilih diam. Suara yang sebelumnya lantang di kolom komentar tiba-tiba menghilang ketika harus berhadapan dengan dunia nyata.
Keberanian yang terlihat di layar sering kali tidak sekuat yang dibayangkan.
Ketika Kritik Kehilangan Martabat
Kritik pada dasarnya adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang sehat. Kritik membantu memperbaiki kesalahan, mengingatkan kekeliruan, dan mendorong perubahan.
Namun kritik yang disampaikan dari balik akun anonim dengan bahasa kasar sering kali kehilangan martabatnya. Alih-alih menyumbangkan gagasan, yang muncul justru cacian. Alih-alih memberi solusi, yang terdengar hanya kemarahan.
Akibatnya, ruang diskusi yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran berubah menjadi arena saling menyerang.
Lebih ironis lagi, sebagian orang yang paling keras menuntut kejujuran justru tidak berani menunjukkan siapa dirinya.
Keberanian Sejati Tidak Membutuhkan Topeng
Dalam kehidupan sosial ada prinsip sederhana: jika seseorang cukup berani untuk menuduh, menghina, atau mengkritik orang lain, maka seharusnya ia juga cukup berani untuk berdiri di balik kata-katanya sendiri.
Keberanian sejati tidak membutuhkan topeng.
Media sosial tidak membutuhkan lebih banyak orang yang bersembunyi di balik akun anonim sambil melempar batu. Media sosial membutuhkan lebih banyak orang yang berani berbicara dengan identitas yang jelas, dengan argumen yang sehat, serta dengan etika yang terjaga.
Karena pada akhirnya, integritas seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia menulis di kolom komentar, melainkan dari seberapa berani ia mempertanggungjawabkan kata-katanya.
Dan jika seseorang hanya berani menyerang dari balik akun anonim, mungkin yang perlu diperbaiki bukanlah dunia di sekitarnya, melainkan keberanian dalam dirinya sendiri. (*)

