SOE, TTS – Bantuan bibit jagung dari Pemerintah Desa Olais, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menuai kekecewaan. Bibit yang dibagikan kepada warga dilaporkan tidak tumbuh setelah ditanam, sehingga memicu protes dari masyarakat penerima.
Ketua BPD Olais, Dominggus Tenis, bersama warga Albinus Liunima dan Paulus Antonis menyebut hampir seluruh penerima bantuan mengalami kondisi serupa. Bibit yang ditanam sesuai waktu pembagian pada Januari lalu tidak menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan.
“Kami sangat kecewa karena faktanya bibit jagung yang diberikan kepada masyarakat itu tidak bagus. Kami harapkan uangnya bisa dikembalikan oleh pihak supplier karena musim tanam sudah lewat, sehingga dana tersebut bisa dijadikan Silpa untuk dimanfaatkan pada tahun 2026,” tegas Dominggus.
Ia menilai kegagalan tersebut membuat masyarakat kehilangan momentum musim tanam, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil pertanian dan pendapatan warga.
Sekretaris Desa Olais, Fendi Tamelan, saat dikonfirmasi Kamis (19/2/2026), membenarkan persoalan tersebut. Ia mengakui bibit yang ditanam warga maupun perangkat desa tidak tumbuh.
Pembagian bibit dilakukan pada Januari dengan total 288 kilogram yang didistribusikan ke 18 RT, masing-masing menerima 15 kilogram. Sisa sekitar 6 kilogram dibagikan kepada perangkat desa untuk ditanam sebagai uji coba, namun hasilnya sama.
“Sisa bibit sekitar 6 kilogram kemudian dibagikan kepada perangkat desa untuk ditanam, dan hasilnya juga tidak tumbuh,” jelas Fendi.
Menindaklanjuti keluhan warga, pemerintah desa telah berkoordinasi dengan pihak supplier agar segera turun ke lapangan untuk memastikan penyebab kegagalan serta melakukan penggantian bibit.
“Pihak supplier rencananya hari Sabtu akan datang ke lokasi. Jujur kami juga sangat kecewa dengan kejadian ini,” ujarnya.
Pemerintah desa berharap ada kepastian dan solusi cepat, agar masyarakat masih bisa menanam kembali memanfaatkan lahan kosong yang tersedia. Jika tidak memungkinkan, warga meminta dana pengadaan bibit dikembalikan agar tidak merugikan keuangan desa.
“Kami minta bibit segera diganti supaya bisa ditanam lagi karena masih ada lahan kosong. Mudah-mudahan secepatnya ada kepastian,” pungkasnya. (Sys/ST)

