ATAMBUA – Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, menutup Pelatihan Berbasis Unit Kompetensi untuk kejuruan pertukangan furniture (HPL) dan pertukangan baja ringan di Yayasan Bantara Sabda Timor, Labur, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Senin (24/11/2025). Pelatihan ini melibatkan 24 peserta: 12 meubeler dan 12 pertukangan baja ringan.
Dalam sambutannya, Bupati Willy Lay menegaskan bahwa perubahan hidup dimulai dari ketekunan dan kemauan untuk belajar. Ia mengutip pesan seorang pater bahwa “orang kecil yang melakukan hal kecil dengan tekun dapat menghasilkan sesuatu yang besar”, sembari menekankan bahwa pelatihan sederhana seperti ini dapat menjadi momentum awal bagi peserta untuk memperbaiki masa depan mereka.
Bupati Willy menyoroti kenyataan bahwa pekerjaan pembuatan HPL maupun instalasi baja ringan di Kabupaten Belu selama ini lebih banyak dikerjakan tenaga dari luar daerah. Karena itu, ia berharap pelatihan ini mampu melahirkan tenaga-tenaga lokal yang terampil dan profesional, terutama anak muda Atambua yang ingin meningkatkan taraf hidupnya.
“Pemerintah tidak bisa mengubah nasib saudara-saudara. Kami hanya memfasilitasi. Perubahan itu harus datang dari diri sendiri,” tegasnya. Ia juga mengingatkan peserta untuk meniru budaya kerja masyarakat Jepang yang disiplin dan produktif agar dapat keluar dari lingkaran kemiskinan.
Saat meninjau hasil pelatihan, Bupati Willy Lay berharap seluruh peserta benar-benar mempraktikkan keterampilan yang mereka peroleh. Ia menegaskan bahwa sertifikat dan peralatan yang diberikan bukan sekadar simbol, tetapi modal awal untuk memulai usaha secara mandiri.
Bupati juga mengumumkan program baru untuk tahun depan, yaitu pelatihan pengolahan batang pisang menjadi produk mebel bernilai ekonomi tinggi. Program tersebut dirancang sebagai langkah pembukaan peluang ekspor, mengingat bahan baku batang pisang sangat melimpah di Kabupaten Belu. Pemerintah akan melakukan pendataan kebun pisang, menyiapkan pendamping teknis, dan mendorong pelatihan berkelanjutan agar produk benar-benar mampu bersaing di pasar regional maupun internasional.
“Ini harus berkelanjutan. Tahun depan kita mulai pelatihan pengolahan batang pisang supaya bisa menghasilkan produk bernilai tinggi bahkan diekspor,” jelasnya.
Salah satu peserta, Melkior, kepada Siarantimor.com mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini karena bisa meningkatkan keterampilannya. Ia mengatakan akan menekuni usaha meubel setelah menerima pelatihan dan bantuan peralatan. “Saya berterima kasih karena sudah ada kegiatan ini dan juga dapat peralatan. Saya akan tekuni usaha mebel,” ujarnya.
Kegiatan penutupan ditandai dengan penyerahan sertifikat dan peralatan pertukangan kepada dua perwakilan peserta oleh Bupati Belu, disaksikan staf khusus, instruktur, pimpinan Yayasan Bantara Sabda Timor Labur, serta seluruh peserta. (Sys/ST)

