spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dari Pinggir Jalan ke Bus Sekolah: Perjuangan Bersama untuk Anak-Anak TTS

SOE,TTS – Pagi itu, jalanan dari Kupang menuju Soe belum terlalu ramai. Namun di beberapa titik – Batu Putih, Boentuka, hingga Benlutu – pemandangan yang sama berulang: anak-anak berseragam sekolah berdiri di pinggir jalan, mengangkat tangan, berharap ada kendaraan yang mau berhenti.
Mereka bukan sedang bermain. Mereka sedang mengejar masa depan.

Ketua Pospera NTT, Karunia Meianto Lily, bersama Erik Benu, menyaksikan langsung kenyataan itu dalam perjalanan menuju Lakat. Anak-anak itu menunggu tumpangan agar bisa sampai ke sekolah tepat waktu. Tidak ada bus sekolah. Tidak ada kendaraan jemputan. Yang ada hanya kesabaran, keberanian, dan semangat yang tak pernah mereka tawar.

Hati siapa yang tidak terketuk melihat itu?

Tanpa rencana besar, tanpa protokol resmi, pagi itu sebuah ambulans Pospera berhenti. Anak-anak dari Batu Putih, Boentuka, dan Benlutu naik ke dalam kendaraan – sebuah momen yang sederhana, bahkan diselingi tawa karena “pergi sekolah naik ambulans”.

Namun di balik canda itu, percakapan kecil di dalam mobil justru membuka mata. Jarak rumah ke sekolah yang jauh, orang tua yang tak selalu bisa mengantar, dan risiko di jalanan menjadi cerita sehari-hari bagi anak-anak ini. Meski begitu, satu hal tidak berubah: semangat mereka untuk tetap bersekolah.

Dari perjalanan singkat itulah sebuah tekad lahir.

Karunia Meianto Lily kemudian berkomunikasi dengan Ketua Umum Pospera, Adian Napitupulu. Pesannya sederhana: anak-anak TTS tidak meminta kemewahan, mereka hanya butuh sarana agar bisa sampai ke sekolah dengan aman. Negara harus hadir, bukan dalam kata-kata, tetapi dalam kendaraan yang benar-benar mereka naiki setiap pagi.

Perjuangan itu tidak berjalan sendiri. Banyak tangan terlibat, banyak doa dipanjatkan. Hingga akhirnya, menjelang Natal, kabar baik itu datang: dua unit bus sekolah untuk anak-anak TTS.

“Ini kado Natal terindah untuk anak-anak kita,” ujar Karunia.

Bus sekolah bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol keselamatan, efisiensi waktu, dan kemandirian. Ia memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar disiplin, bersosialisasi, dan pulang ke rumah tanpa rasa cemas di jalan.

Perjuangan bersama ini juga mendapat penguatan dari Anggota DPRD Kabupaten TTS, Yerim Yoss Fallo. Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu sejak awal menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan publik yang nyata, bukan sekadar janji.

“Kalau ambulans ini adalah janji politik untuk masyarakat Dapil 1. Tapi siapa pun yang butuh, akan kami layani,” katanya.

Yerim menyampaikan terima kasih kepada Adian Napitupulu dan seluruh jajaran Pospera Indonesia yang telah mengawal hingga dua unit bus sekolah tiba dengan selamat di TTS. Saat ini, kedua bus tersebut sudah berada di Kota Soe dan siap beroperasi.

Bus pertama akan melayani rute Maiskolen–Soe, menjembatani pelajar dari wilayah pedesaan menuju pusat kota. Bus kedua akan melayani Kecamatan Fautmolo dan sekitarnya—wilayah yang selama ini bergulat dengan keterbatasan akses transportasi.

Sementara itu, satu unit ambulans tambahan tengah dalam perjalanan dari Ngawi menuju Surabaya, untuk kemudian dikirim ke Kupang dan diteruskan ke Soe. Dengan kedatangan ambulans ini, total tiga unit ambulans kini disiapkan melalui jejaring Pospera untuk melayani masyarakat TTS.

“Semua ini untuk rakyat yang membutuhkan,” tegas Yerim.

Perjuangan ini bukan tentang satu nama, satu organisasi, atau satu jabatan. Ini tentang keberpihakan. Tentang melihat langsung, lalu bergerak bersama. Tentang negara yang akhirnya hadir karena ada orang-orang yang tidak lelah mengetuk pintu.

Dan setiap pagi nanti, ketika bus sekolah itu berhenti di pinggir jalan, anak-anak TTS tak lagi harus mengangkat tangan berharap tumpangan. Mereka akan naik dengan pasti—menuju sekolah, menuju masa depan, bersama. (Sys/ST)

Most Popular