spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Diduga Dituduh Curi HP, Siswa SD di Kupang Trauma dan Enggan Kembali Sekolah

KOTA KUPANG – Seorang bocah berusia 9 tahun berinisial YA, siswa kelas III SD Negeri Oehendak, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, diduga mengalami trauma psikologis setelah dituduh mencuri telepon genggam milik penjaga sekolah.
Tuduhan tersebut membuat korban merasa malu, tertekan, bahkan menolak kembali bersekolah.
“Saya malu ke sekolah,” ujar YA lirih kepada ibunya,Rabu 11/2/2026.

Peristiwa ini diungkapkan oleh ibu kandung korban, Gaudensia Eko. Ia menjelaskan kejadian bermula pada Senin (2/2/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Saat itu, sebuah handphone milik penjaga sekolah berada di atas meja.

YA disebut mengambil HP tersebut dan menyimpannya di dalam laci sebelum kembali ke kelas.
Menurut Gaudensia, anaknya tidak mengetahui apa yang terjadi setelah itu hingga pulang sekolah. Namun, pada Rabu malam, pihak sekolah menghubungi keluarga dan meminta orang tua datang ke sekolah keesokan harinya. Pemanggilan tersebut membuat YA panik dan menangis.

“Dia bangun sambil menangis dan bilang, ‘Mama bukan saya curi, saya hanya ambil dan taruh di laci’,” tutur Gaudensia.

Dalam pertemuan di sekolah, pihak sekolah tetap menyatakan YA sebagai pihak yang mengambil HP, dengan alasan ada saksi yang melihat. Sementara itu, Gaudensia menegaskan anaknya tidak membawa pulang maupun menyimpan barang tersebut.

“Saya bilang, anak saya ambil tapi tidak bawa pulang. Kalau mencuri pasti disimpan,” jelasnya.

Ia mengaku pernyataan pihak sekolah yang menyebut barang tidak akan hilang jika tidak diambil YA membuat keluarga merasa anaknya disalahkan. Rasa takut dan tekanan juga sempat membuat Gaudensia memarahi anaknya di rumah karena khawatir anaknya terlibat masalah hukum.

“Saya orang kecil, jual sayur sehari cuma dapat Rp5.000. Saya takut anak saya masuk penjara,” katanya.

Gaudensia juga mengaku sempat meminta agar kasus ini dilaporkan ke pihak kepolisian untuk mengungkap kebenaran melalui pelacakan barang, namun menurutnya permintaan tersebut ditolak pihak sekolah dengan alasan menjaga nama baik institusi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah terkait kronologi kejadian maupun langkah penyelesaian kasus tersebut.(Sys/ST)

Most Popular