KUPANG – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Nusa Tenggara Timur (NTT), Andreas Hugo Pareira, menyoroti insiden penembakan warga Indonesia oleh aparat Timor Leste di wilayah perbatasan. Ia menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele, dan mendesak adanya penyelidikan serta penyelesaian secara komprehensif.
“Persoalan ini perlu diselidiki. Selain menyangkut hubungan antarnegara, juga harus didekati dengan pendekatan kewargaan,” kata Andreas, Kamis (28/8).
Politikus PDIP yang juga anggota Komisi XIII DPR RI itu menekankan bahwa penyelesaian konflik perbatasan tidak boleh menimbulkan bias yang dapat memicu ketegangan antara Indonesia dan Timor Leste. Menurutnya, keterlibatan kedua negara perlu tetap dalam kerangka diplomasi, namun masyarakat lokal juga harus dilibatkan untuk mencegah konflik meluas.
“Permasalahan seperti ini sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan lokal, sehingga tidak menimbulkan kesan konflik antarnegara,” ujarnya.
Andreas mengingatkan bahwa masyarakat di NTT dan Timor Leste sejatinya masih memiliki ikatan kekerabatan yang kuat. “Pada dasarnya orang Timor Leste dengan orang NTT adalah bersaudara, hanya saja dahulu bangsa penjajah Portugis dan Belanda memisahkan mereka dalam batas teritori kolonial,” jelasnya.
Sebelumnya, insiden penembakan terjadi di Tapal 36, Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Senin (25/8/2025). Bentrokan bermula ketika 24 warga Indonesia berusaha menghentikan pembangunan pilar batas negara oleh Timor Leste. Laporan tersebut kemudian memicu kedatangan tujuh personel Unidade Patrullamentu Fronteira (UPF) atau Kepolisian Perbatasan Timor Leste yang bersenjata laras panjang.
Dalam insiden itu, seorang warga bernama Paulus Kaet Oki tertembak di bahu kanan. Sementara laporan lain menyebut korban mengalami luka ringan akibat peluru karet. Polisi Indonesia menemukan delapan selongsong peluru dan satu proyektil senjata laras panjang di lokasi kejadian.
Andreas menilai situasi ini harus ditangani dengan cepat agar tidak menambah panjang daftar konflik perbatasan RI–Timor Leste yang sudah berlangsung sejak lama. Ia menekankan pentingnya diplomasi pemerintah pusat, bersamaan dengan penguatan dialog masyarakat lokal, agar kasus ini tidak menimbulkan eskalasi yang lebih besar. (ant/ST)
Editor: Agus S