spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Garda Satu NTT Desak Audit Dana Desa Olais, Bibit Jagung Rp35 Juta Diduga Gagal Total

SOE, TTS – Organisasi masyarakat Garda Satu Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak pemerintah daerah segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap pengadaan bibit jagung di Desa Olais, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang dilaporkan gagal tumbuh setelah ditanam warga.

Sekretaris DPW Garda Satu NTT, Melvin Sae, menilai persoalan tersebut bukan sekadar kegagalan teknis, tetapi harus ditelusuri dari aspek pengadaan dan penggunaan Dana Desa.

“Masyarakat sudah membersihkan kebun dan menanam bibit yang dibagikan dengan harapan mendapat hasil panen. Namun faktanya bibit itu tidak tumbuh, sehingga masyarakat mengalami kerugian nyata,” ujarnya.

Garda Satu meminta Bupati TTS, Ketua DPRD TTS, Inspektorat, Dinas PMD, Camat Kuanfatu, serta BPD Desa Olais turun langsung mengusut persoalan tersebut. Melvin mempertanyakan proses pengadaan, termasuk kemungkinan adanya kelalaian atau penyimpangan.

Ia juga meminta Kepala Dusun II Desa Olais yang merangkap Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK), Ferdinand Tunliu, dievaluasi dan diberhentikan dari jabatannya jika terbukti lalai.

“Bagaimana seseorang yang tidak mampu menjalankan tugas dengan baik masih memegang jabatan strategis? Ini harus menjadi evaluasi sistem pengawasan dan akuntabilitas,” tegasnya.

Selain itu, Garda Satu NTT mendesak agar dana pengadaan bibit sebesar Rp35.666.000 dikembalikan dan dimanfaatkan kembali untuk kepentingan masyarakat apabila terbukti bermasalah. Mereka juga meminta Inspektorat Kabupaten TTS melakukan audit mendalam dan tidak sebatas formalitas.

Sebelumnya, warga Desa Olais mengeluhkan bantuan bibit jagung yang dibagikan pada Januari 2026 tidak tumbuh setelah ditanam. Ketua BPD Olais, Dominggus Tenis, bersama Albinus Liunima dan Paulus Antonis, menyebut hampir seluruh penerima bantuan mengalami hal serupa.

“Kami sangat kecewa. Bibit yang diberikan tidak bagus. Musim tanam sudah lewat, jadi kami berharap uangnya bisa dikembalikan oleh supplier,” kata Dominggus.

Sekretaris Desa Olais, Fendi Tamelan, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan sebanyak 288 kilogram bibit dibagikan ke 18 RT, masing-masing 15 kilogram. Sisa sekitar 6 kilogram ditanam perangkat desa dan hasilnya juga tidak tumbuh.

“Pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan supplier agar turun langsung ke lokasi untuk memastikan penyebab kegagalan dan melakukan penggantian bibit. Kami juga sangat kecewa dengan kejadian ini,” ujarnya.

Garda Satu NTT menegaskan persoalan ini harus diselesaikan secara transparan dan akuntabel agar masyarakat Desa Olais tidak dirugikan dua kali—gagal panen dan kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan dana desa. (Sys/ST)

Most Popular