spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Golkar TTS Dinilai Mendesak Hadirkan Kepemimpinan Muda Visioner

SOE, TTS – Wacana regenerasi kepemimpinan di tubuh Partai Golkar Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) terus menguat. Sejumlah tokoh muda, pengamat politik lokal, hingga simpatisan partai menilai bahwa Golkar membutuhkan figur muda secara nyata—bukan sekadar “muda secara gagasan”—untuk menjawab dinamika politik yang berubah cepat dan tuntutan publik yang semakin kompleks.

Desakan ini muncul seiring perubahan lanskap politik TTS dalam beberapa tahun terakhir. Pemilih pemula dan pemilih muda kini menjadi kelompok dominan dalam demografi politik. Pada saat yang sama, kompetisi antarpartai dan antarfigur politik semakin ketat, sehingga partai dituntut menampilkan pemimpin yang adaptif, inklusif, serta cakap dalam komunikasi publik.

Golkar, yang dikenal sebagai partai dengan dinamika internal yang cair, dinilai sedang berada pada momentum penting untuk melakukan pembaruan. Meski kontribusi generasi senior dianggap sangat besar, banyak pihak menilai pola kepemimpinan tradisional tidak lagi memadai menghadapi era digital, percepatan informasi, dan gaya politik baru yang menuntut fleksibilitas.

“Bukan soal menyingkirkan para senior. Mereka tetap pilar pengalaman. Tetapi sekarang zamannya membutuhkan figur yang dapat bergerak cepat, membaca tren, memahami bahasa generasi baru, dan mampu merangkul publik dengan cara yang berbeda,” ujar seorang analis politik lokal di Soe.

Dorongan regenerasi juga mendapat penguatan dari pengalaman di tingkat provinsi. Munculnya figur muda seperti Alain yang kini memimpin Golkar NTT dinilai menjadi contoh nyata bahwa partai berlambang beringin membuka ruang besar bagi kader muda kompeten dan memiliki basis sosial kuat. Banyak pihak menyebut momentum ini sebagai “best practice” yang perlu dicontoh Golkar TTS.

Pandangan serupa disampaikan politisi muda TTS, Jacob Petrus Nalle, Sekretaris DPD Projo NTT, yang akrab disapa Yuzh Yuno. Ia menilai regenerasi bukan hanya kebutuhan elektoral, tetapi kebutuhan struktural agar partai tetap relevan.

“Kepemimpinan muda bukan hanya tren, melainkan kebutuhan struktural. Golkar TTS memiliki basis besar, tetapi harus dipimpin figur visioner yang paham arah perubahan. Kita butuh pemimpin yang matang secara mental, memiliki wawasan politik luas, memahami kerja organisasi modern, serta mampu memadukan disiplin kader senior dengan inovasi kaum muda,” tegasnya.

Jacob menilai bahwa kondisi politik dan ekonomi TTS menuntut pemimpin yang mampu “melihat jauh ke depan”, memahami dinamika digitalisasi, membaca peluang ekonomi lokal, serta membangun jejaring lintas-sektor secara inklusif. Figur seperti ini, katanya, dibutuhkan Golkar untuk meraih kembali kepercayaan pemilih.

“Di banyak daerah, pemimpin muda Golkar terbukti mampu membangun reputasi baru partai. Alain di NTT adalah contoh bagaimana generasi baru bisa diterima publik tanpa memutus kesinambungan dengan senior. Pola seperti ini perlu ditiru di TTS,” tambahnya.

Ketua DPC Projo TTS, Felwilando Kase, menekankan bahwa regenerasi bukan sekadar mengganti wajah lama dengan yang baru, melainkan memperkuat kualitas kepemimpinan secara menyeluruh.

“Golkar TTS perlu tampil dengan figur yang modern—mampu memimpin dengan pendekatan kreatif, peka terhadap perubahan zaman, dan mampu berkomunikasi baik secara internal maupun eksternal. TTS sedang berubah, dan kepemimpinan politik juga harus berubah,” kata Felwilando.

Ia menyebut sektor strategis seperti pemberdayaan pemuda, digitalisasi UMKM, penguatan petani muda, hingga inovasi desa membutuhkan pemimpin yang dekat dengan dunia digital dan memahami manajemen organisasi modern.

“Figur muda yang visioner akan memudahkan konsolidasi antar-generasi di tubuh Golkar TTS. Dengan pemimpin yang inklusif, Golkar bisa membangun koalisi lebih luas—baik di ranah politik maupun sosial-ekonomi,” ujarnya.

Tren munculnya pemimpin muda di berbagai daerah di Indonesia, seperti Gibran Rakabuming Raka, Sherly Juanda, dan tokoh-tokoh muda lainnya, menunjukkan bahwa figur berusia di bawah 50 tahun memiliki daya tarik kuat di mata pemilih urban, Gen Z, dan milenial.

Golkar sendiri memiliki sejarah panjang memunculkan tokoh muda, termasuk Gubernur NTT Melki Laka Lena, yang dinilai menjadi bukti bahwa regenerasi bukan hal asing bagi partai ini, meskipun dinamika internal sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Di tengah kondisi ekonomi TTS yang masih bertumpu pada sektor pertanian, tantangan pembangunan desa, tingginya angka pengangguran muda, serta penetrasi digital yang semakin pesat, Jacob Nalle menilai Golkar TTS membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar fresh.

“Sejumlah tantangan pembangunan di TTS jelas menantang parpol—termasuk Golkar—untuk menghadirkan calon pemimpin visioner yang mampu membaca arah pembangunan; matang secara emosional dan organisatoris; inklusif; peka terhadap teknologi dan dinamika media sosial; serta mampu membangun kolaborasi lintas partai dan lintas sektor,” ujarnya.

Bagi banyak pihak, regenerasi kepemimpinan dipandang sebagai jalan memperkuat kembali basis Golkar di akar rumput, menambah daya saing partai menghadapi Pemilu 2029, dan memastikan Golkar TTS bergerak seiring arus modernisasi nasional. (Sys/ST)

Most Popular