KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menegaskan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan menjadi salah satu pilar utama dalam transisi energi baru terbarukan (EBT) di provinsi kepulauan tersebut.
“Saat ini kontribusi EBT kita baru 10–15 persen atau sekitar 42 megawatt. Namun, roadmap jelas, tambahan hingga 300 MW EBT ditargetkan tercapai pada 2028 sehingga porsinya meningkat menjadi 42,6 persen,” ujar Melki di Kupang, Jumat (22/8).
Ia menyebut NTT merupakan daerah kaya potensi energi terbarukan. Potensi itu meliputi tenaga angin sebesar 10.188 MW, air 369,5 MW, surya 60,13 GWp, bioenergi 746,8 MW, dan panas bumi 1.149 MW.
Pada 2023, Pemprov NTT membangun PLTS terpusat off-grid di 21 lokasi. Jumlah ini meningkat pesat pada 2024 dengan 226 unit PLTS tersebar. Tahun depan, direncanakan pembangunan 47 unit PLTS baru yang menjangkau lebih banyak desa dan pulau kecil.
Salah satu contoh nyata inovasi adalah di Pulau Semau, yang kini memiliki pembangkit hibrid berupa PLTS berkapasitas 450 kWp dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel 1.380 kW. “Hasilnya, kita bisa hemat bahan bakar hingga Rp1,17 miliar per tahun dan mengurangi emisi karbon sebesar 180 ton CO2 pada 2024,” kata Melki.
Laporan 2025 menunjukkan kontribusi energi terbarukan di Pulau Semau tetap stabil pada kisaran 10–12 persen, dengan pengurangan konsumsi BBM 8–9 persen. “Itu bukan sekadar angka, tapi bukti nyata bahwa teknologi hijau membawa manfaat ekonomi sekaligus melindungi lingkungan,” tambahnya.
Meski demikian, Melki mengakui biaya investasi EBT masih tinggi. Pembangunan PLTS off-grid membutuhkan sekitar Rp130 juta per kWp, sementara pembangkit panas bumi 1 MWe diperkirakan menelan biaya Rp48 miliar. Tantangan lain adalah meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap proyek energi hijau tersebut.
Karena itu, Pemprov NTT terus menggenjot program strategis seperti PLTS Dana Alokasi Khusus Infrastruktur EBT di Sumba, ACCESS Project di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, serta Program MENTARI di Sumba Tengah yang telah melistriki ratusan rumah tangga dan fasilitas umum. (ant/ST)
Editor: Agus S