SOE, TTS – Jalan menuju Desa Fotilo bukanlah rute mudah. Batu-batu besar, tanjakan panjang, dan jalur tanah yang berubah licin saat hujan menjadi tantangan tiga jam perjalanan dari Kota Soe. Namun rute berat itu dilalui hampir setiap hari oleh seorang perempuan paruh baya bernama Asnat Nenabu—atau Mama Asnat—yang dengan keteguhan hati memastikan anak-anak di kampungnya tetap memperoleh pendidikan.
Di PAUD sederhana bernama Sob’ana Fotilo, Mama Asnat memulai hari dengan menyapu ruang kelas berdinding papan yang catnya mulai pudar. Ia mengajar di sana selama puluhan tahun, meski gaji awalnya hanya Rp200 ribu per bulan. Meski begitu, ia tak pernah goyah. Baginya, menjadi guru bukan soal upah ataupun status, tetapi panggilan hati. “Kalau saya tidak bisa berjalan, baru saya berhenti mengajar,” ucapnya pelan namun tegas.
Perjalanan Mama Asnat menjadi pendidik dimulai setelah tamat SMA. Ia pernah mengajar di SMP Kristen Poli, lalu pindah ke SD Inpres Fotilo. Namun ketika aturan menuntut gelar S1 bagi guru SD, ia tak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi. Di titik itu, ia memutuskan mengajar PAUD agar tetap bisa membangun fondasi pendidikan anak-anak desanya. “Yang penting saya tetap mengajar. Anak-anak butuh saya,” katanya.
Selama 36 tahun menjadi honorer, kesejahteraan bukan alasannya bertahan. Hingga suatu waktu, video perjuangannya viral dan sampai ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Dalam hitungan hari, ia diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Gajinya kini Rp500 ribu per bulan—sebuah peningkatan, meski tetap jauh dari layak bagi pengabdian sepanjang hidupnya.
Selain menjadi guru, Mama Asnat juga ketua Posyandu. Ia mendampingi para ibu hamil sejak usia kandungan satu bulan hingga melahirkan, lalu menyambut kembali anak-anak itu di PAUD. “Saya didik mereka sejak dalam kandungan. Sampai umur dua tahun, tiga tahun, saya ambil lagi ke PAUD,” ujarnya. Bagi Asnat, karakter harus ditanamkan sejak dini—keberanian, etika, dan kejujuran—karena itulah cahaya masa depan bagi anak-anak di pedalaman.
Usai mengajar, Mama Asnat tak langsung pulang. Ia ke kebun untuk memetik asam, menanam jagung, ubi, atau pisang—apa pun yang bisa tumbuh di tanah kering Timor. Meski langit Fotilo sering terik dan tanahnya retak-retak, semangatnya tak pernah pudar. “Untuk makan, kami bisa cari. Yang penting anak-anak dapat ilmu,” tuturnya.
Pengangkatan sebagai PPPK bukan hadiah tiba-tiba, melainkan buah dari ketekunan dan ketulusan yang ia bangun sejak muda. Ketika videonya sampai ke Presiden, negara akhirnya melihat apa yang selama ini diketahui warga Fotilo: seorang guru yang mengajar bukan demi dunia, tetapi untuk masa depan desanya.
Anak-anak menyambutnya setiap pagi dengan riang. Ia membalasnya dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterisolasian kampung kecil ini. Di usianya yang tak lagi muda, Mama Asnat tetap memancarkan semangat yang jarang ditemukan bahkan di kota-kota besar. “Mari kita tanamkan pendidikan yang kuat dari dasar sampai perguruan tinggi. Kita harus bawa anak-anak keluar dari kebodohan,” katanya.
Kisah Mama Asnat mengingatkan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya berdiri di atas gedung megah ataupun kurikulum modern. Pendidikan hidup melalui sosok-sosok yang berjalan kaki jauh, dibayar sedikit, namun terus menyalakan harapan di pelosok negeri. Dari kesederhanaan hidupnya, Mama Asnat membuktikan bahwa pengabdian tidak perlu disaksikan banyak orang untuk menjadi besar. (Sys/ST)

