spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Internet untuk Desa di TTS: Kunci Lahirnya Generasi Unggul dari Pinggiran

Oleh: Yacob Petrus Nalle
Di tengah derasnya arus digitalisasi nasional, masih banyak desa dan sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang belum menikmati akses internet yang memadai. Di saat anak-anak di kota besar sudah terbiasa belajar melalui platform digital, mengikuti kelas daring, hingga mengakses perpustakaan virtual, sebagian pelajar di pelosok TTS masih bergantung sepenuhnya pada buku cetak yang terbatas dan jaringan komunikasi yang tidak stabil. Kondisi ini bukan sekadar persoalan sinyal, tetapi persoalan masa depan.
Kesenjangan Digital yang Mengancam Keadilan Pendidikan
Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki wilayah geografis yang luas dan menantang, dengan banyak desa terpencil yang berada jauh dari pusat Kota Soe dan belum sepenuhnya terjangkau infrastruktur telekomunikasi. Akibatnya, sekolah-sekolah di wilayah tersebut mengalami keterbatasan dalam mengakses sumber belajar digital, informasi terbaru, maupun pelatihan daring bagi para guru.
Di era Kurikulum Merdeka dan transformasi pendidikan berbasis teknologi, internet bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Tanpa akses internet, siswa di desa akan terus berada dalam lingkaran ketertinggalan dibandingkan rekan-rekan mereka di kota. Jika kondisi ini dibiarkan, kesenjangan digital akan melahirkan kesenjangan kualitas sumber daya manusia.
Internet sebagai Gerbang Kompetensi Abad ke-21
Generasi muda TTS memiliki potensi besar. Mereka cerdas, tangguh, dan terbiasa menghadapi tantangan alam. Namun, potensi itu membutuhkan ruang untuk berkembang, dan jaringan internet membuka akses terhadap berbagai hal penting, seperti:
•Materi pembelajaran global
•Pelatihan keterampilan digital (desain grafis, coding, literasi digital)
•Informasi beasiswa dan peluang pendidikan tinggi
•Kompetisi serta jejaring nasional maupun internasional
Tanpa koneksi internet, siswa di pelosok akan kesulitan mengenal dunia luar, apalagi memiliki kemampuan untuk bersaing di dalamnya. Menyiapkan generasi unggul di TTS berarti memastikan mereka tidak hanya kuat secara karakter, tetapi juga kompeten secara digital.
Dampak Lebih Luas bagi Pembangunan Desa
Akses internet di desa bukan hanya untuk sekolah. Ia berdampak langsung pada pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat. Petani dapat mengakses informasi harga pasar dan cuaca. Pelaku UMKM desa dapat memasarkan produk lokal secara daring. Aparatur desa bisa mengelola administrasi berbasis digital dengan lebih transparan dan efisien. Dengan kata lain, internet adalah infrastruktur pembangunan manusia.
Jika desa terkoneksi, ekonomi desa akan tumbuh. Jika sekolah terkoneksi, kualitas pendidikan meningkat. Jika generasi muda terkoneksi, masa depan TTS akan lebih cerah.
Perlu Komitmen Bersama
Pemerintah daerah, pemerintah pusat, operator telekomunikasi, hingga para pemangku kepentingan lainnya perlu menjadikan pemerataan akses internet sebagai prioritas strategis. Pembangunan infrastruktur jaringan, pemanfaatan jaringan satelit, hingga penyediaan Wi-Fi sekolah harus diarahkan secara khusus ke wilayah blank spot.
Namun, infrastruktur saja tidak cukup. Literasi digital bagi guru dan siswa juga penting agar internet dimanfaatkan secara produktif, bukan sekadar untuk hiburan.
Investasi pada internet di desa bukanlah pemborosan anggaran, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi muda TTS yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.
Penutup
Sebagai politisi muda TTS, saya meyakini bahwa kemajuan daerah ini sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Kualitas generasi muda tidak akan berkembang secara optimal tanpa akses informasi dan teknologi yang setara.
Anak-anak desa di Timor Tengah Selatan memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar. Tugas kita adalah memastikan mereka memiliki sarana untuk mewujudkannya.
Karena dari desa yang terkoneksi akan lahir pemimpin-pemimpin baru, inovator, dan penggerak perubahan bagi Timor Tengah Selatan di masa depan.
Masa depan Timor Tengah Selatan tidak boleh ditentukan oleh keterbatasan jaringan. Anak-anak di desa terpencil memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar dan meraih peluang global.
Jika kita serius ingin melihat generasi muda TTS menjadi unggul, maka akses internet bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. (*)

Most Popular