KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan setiap desa di wilayahnya memiliki potensi unggulan yang harus diolah dan dikemas agar memiliki nilai tambah serta mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Semua desa punya potensi unggulan yang harus dioptimalkan. Jangan lagi menjual dalam bentuk mentah, tetapi diolah dan dikemas agar nilai jual lebih tinggi,” kata Melki di Kupang, Jumat (27/2).
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan pemberdayaan ekonomi desa dan peluncuran produk One Village One Product (OVOP) di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.
Menurut Melki, program pendampingan desa oleh Pemerintah Provinsi NTT dirancang agar potensi lokal tidak berhenti pada produksi bahan mentah, melainkan berkembang menjadi produk olahan bernilai tambah.
Ia menilai perubahan pola produksi menjadi kunci penguatan ekonomi desa. Selama ini, pola yang berjalan masih sebatas tanam, panen, dan jual. Ke depan, desa didorong menerapkan pola tanam, panen, olah, kemas, lalu jual.
Melalui pendekatan OVOP, setiap desa diarahkan memiliki satu produk unggulan yang khas dan mampu bersaing di pasar regional maupun nasional. Dengan pendampingan perangkat daerah provinsi, pemerintah ingin memastikan proses produksi berjalan berkelanjutan serta berdampak langsung pada peningkatan pendapatan warga.
“Desa adalah fondasi ekonomi daerah. Jika desa kuat, maka ekonomi NTT juga kuat,” ujarnya.
Program OVOP menyasar 160 desa di NTT, dengan masing-masing perangkat daerah provinsi mendampingi desa binaan. Untuk Desa Bolok, pendampingan dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi NTT dengan fokus pada budidaya ternak babi dan pengolahan daging se’i babi.
Pada kesempatan itu diluncurkan produk OVOP Desa Bolok berupa Se’i Babi Kikikaka yang dikemas dalam berbagai ukuran agar siap dipasarkan lebih luas. Produk tersebut dinilai berbeda dari penjualan se’i pada umumnya yang masih terbatas dalam kemasan konvensional.
Melki menilai banyak produk daerah masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah belum optimal. Karena itu, pemerintah provinsi mendorong transformasi dari sektor primer menuju pengolahan bernilai tambah guna memperkuat struktur ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (ant/KS)

