KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menyampaikan jumlah desa berlistrik di provinsinya terus meningkat. Hingga pertengahan 2025, desa yang telah teraliri listrik mencapai 3.327 desa, naik dari posisi akhir 2024 yang tercatat 3.322 desa.
“Di tahun sebelumnya angkanya berada pada 3.322 desa yang berlistrik, tetapi di tahun ini, di pertengahan tahun menjadi 3.327 desa teraliri listrik,” kata Melki di Kupang, Kamis, (21/8).
Menurutnya, peningkatan tersebut berdampak pada rasio elektrifikasi di NTT. Pada 2023 rasio elektrifikasi PLN berada di angka 87 persen, kini per Maret 2025 sudah naik menjadi 89,12 persen. Sementara rasio elektrifikasi total mencapai 96,39 persen. “Target kita jelas, 99,99 persen rasio elektrifikasi provinsi pada 2028 dan 100 persen desa berlistrik pada 2027,” tegasnya.
Untuk mencapai target itu, Pemprov NTT bersama PLN melakukan pemasangan meteran listrik berdaya 450 VA bagi masyarakat kurang mampu, pembangunan sarana listrik di daerah terpencil, serta koordinasi dengan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM. Melki menambahkan, pada 2025 melalui Dinas ESDM Pemprov NTT ditargetkan sebanyak 762 meteran listrik gratis daya 450 VA bagi masyarakat tidak mampu di kabupaten dengan rasio elektrifikasi rendah.
Selain itu, jumlah pelanggan PLN di NTT juga terus bertumbuh. Dari 1,21 juta pelanggan pada 2023 menjadi 1,26 juta pada 2024, atau rata-rata hampir 88 ribu pelanggan baru setiap tahun. Saat ini daya terpasang di NTT mencapai 628,85 MW, dengan daya mampu 470,72 MW dan beban puncak 302,53 MW, sehingga cadangan mencapai 168,19 MW.
“Berdasarkan laporan dari PLN, sistem Pulau Timor relatif aman, tetapi kita tetap waspada karena sistem Flores, terutama Labuan Bajo dan sekitarnya, berpotensi defisit pada 2027 jika pembangkit baru tidak segera dibangun,” ujar Melki. (ant/ST)
Editor: Agus S

