KUPANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang membuka ruang kolaborasi bersama Yayasan Plan International Indonesia untuk memperkuat penyelamatan sumber daya air melalui edukasi, konservasi, serta penguatan perencanaan berbasis kajian ilmiah. Wali Kota Kupang, Christian Widodo, di Kupang, Selasa, mengatakan kerja sama ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan air minum dan ketahanan lingkungan di wilayahnya.
“Yang kita lakukan hari ini adalah investasi masa depan. Air harus cukup, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk anak cucu yang akan lahir di Kota Kupang,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut akan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman bersamaan dengan peluncuran Program CERAH pada 4 Desember 2025, serta aksi penanaman pohon di daerah aliran sungai (DAS) pada 5 Desember 2025. Christian menegaskan Pemkot Kupang ingin memastikan setiap program berjalan nyata dan memberikan dampak langsung.
“Kita tidak mau hanya seremonial. Kita ingin pohon tumbuh, konservasi berjalan, dan sumber air kembali pulih. Kami dukung penuh. Kalau kajiannya sudah ada, anggarannya akan mengikuti,” katanya.
Christian berharap sinergi antara Pemkot Kupang dan Plan Indonesia mampu mewujudkan ketahanan air jangka panjang sekaligus mengurangi tekanan fiskal daerah melalui perbaikan tata kelola sumber air. Kerja sama ini diharapkan pula mampu memperkuat kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam melindungi sumber air secara berkelanjutan.
Area Program Manajer NTT Yayasan Plan Indonesia, Semuel A. Niap, menjelaskan bahwa Program Cerdas Kelola Air dan Lahan (CERAH) didukung Pemerintah Australia selama tiga tahun, yakni 2025–2028. Program ini menyasar perbaikan kualitas dan kapasitas air minum Kota Kupang, terutama pada DAS Kali Dendeng dan Kali Liliba mulai dari hulu hingga hilir.
Ia memaparkan sejumlah bentuk kolaborasi yang akan dijalankan, mulai dari kajian dan penyelesaian persoalan air tak berekening atau tak berbayar (Non-Revenue Water), penguatan dokumen Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM), serta edukasi publik dan pemberdayaan komunitas lokal. Kegiatan konservasi seperti penanaman pohon, pembuatan sumur resapan, biopori, dan pelibatan perempuan, pemuda, kelompok disabilitas, serta tokoh adat juga menjadi bagian penting dalam program tersebut. Selain itu, forum multipihak akan diaktifkan kembali untuk memperkuat tata kelola air di level kota.
Sinergi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mengembalikan kualitas lingkungan dan memastikan ketersediaan air yang lebih stabil bagi masyarakat Kota Kupang ke depan. (ant/ST)

