MALAKA – Cerita rakyat tentang Abudenok dan Sungai Benenai hingga kini masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat Malaka, khususnya di wilayah Wewiku–Wehali.
Kisah yang diwariskan turun-temurun ini tidak hanya menjelaskan asal-usul nama tempat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir selatan Malaka.
Menurut penuturan tokoh adat setempat yang dikenal sebagai Bei Abudenok, legenda ini berawal dari sosok gadis cantik bernama Abuk. Ia dipercaya sebagai penguasa laut selatan Malaka yang menguasai berbagai biota laut.
Karena kekuatannya, Abuk kemudian dijuluki Abulenok, yang berarti Abuk Bercahaya atau Abuk Cermin. Seiring waktu, penyebutan itu berubah menjadi Abudenok, nama yang kini digunakan untuk menyebut wilayah laut sekaligus sosok penguasanya dalam cerita leluhur.
Dalam mitos masyarakat, Abudenok digambarkan hidup berpasangan dengan Benenai, penguasa darat Malaka yang dilambangkan sebagai Sungai Benenai.
Ketika laut bergemuruh pada musim kemarau panjang, masyarakat percaya hal itu sebagai tanda keluh-kesah Abudenok yang membutuhkan bantuan.
Banjir yang datang dari Sungai Benenai dianggap sebagai simbol bantuan sang suami kepada istrinya di laut.
Cerita tersebut juga dipercaya membawa makna kesuburan. Air banjir yang mengalir dari darat ke laut diyakini membuat tanah subur dan memberi kehidupan bagi masyarakat, sehingga mereka dapat menanam berbagai tanaman seperti padi, jagung, pisang, ubi kayu, dan kacang-kacangan.
Selain kisah mitologis, masyarakat juga mengenal versi sejarah penamaan Abudenok yang berkaitan dengan peristiwa nyata. Dahulu, kawasan tersebut dikenal sebagai Wewiku–Wehali, dengan sebutan laut “Tasi Tuik Meti Tuik” di Wewiku dan “Ain Tasi” di Wehali.
Di dekat pantai terdapat genangan air tawar yang disebut “Debu/Rebu Kfau”, tempat ternak warga minum.
Menurut cerita warga, nama Abudenok muncul dari kisah seorang perempuan tua bernama Abuk Nenok asal Rabasa La’etua Klaran. Ia dikabarkan hilang tersapu ombak saat mencari hasil laut bersama keluarganya.
Sejak saat itu, masyarakat menamai kawasan pantai tersebut Abuk Nenok yang kemudian berubah dialek menjadi Abudenok.
Perubahan alur Sungai Benenai yang dahulu bermuara di Ain Tasi dan kemudian berpindah hingga menembus kawasan Rebu Kfau juga menjadi bagian dari cerita asal-usul wilayah tersebut.
Hingga kini, legenda Abudenok dan Benenai tetap diyakini sebagai warisan budaya yang memperkaya sejarah lokal serta memperkuat hubungan masyarakat dengan alam dan leluhur mereka.(Sys/ST)

