KUPANG – Genap satu tahun kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan arah pembangunan difokuskan pada peletakan fondasi yang kuat melalui tujuh pilar strategis dan sepuluh program dasar cita. Penegasan itu disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-67 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 di DPRD Provinsi NTT, Jumat (20/2/2026).
Dalam pidatonya, Gubernur Melki menyebut tahun pertama pemerintahan Melki–Johni ditetapkan sebagai tahun fondasi untuk membenahi sistem birokrasi, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta menyiapkan pelayanan publik yang lebih presisi di tahun-tahun berikutnya. “Kami fokus membangun dasar yang kuat agar pembangunan berjalan berkelanjutan dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Pemprov NTT mengusung visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan melalui implementasi 7 Pilar Strategis dengan fokus pada pertanian, peternakan, kelautan berbasis ekonomi biru, serta pariwisata berbasis komunitas melalui hilirisasi produk dan peningkatan nilai tambah komoditas lokal. Salah satu capaian yang disorot adalah perlindungan jaminan sosial bagi 100 ribu pekerja rentan sektor informal yang disebut sebagai skema terbesar di Indonesia yang dijalankan pemerintah daerah.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan NTT tahun 2025 tercatat 5,14 persen. Angka kemiskinan turun menjadi 17,50 persen. Program One Village One Product (OVOP) turut menggerakkan 44 produk unggulan desa yang melibatkan 190 pelaku UMKM dan diperkuat melalui 22 gerai NTT Mart di seluruh kabupaten/kota.
Pada sektor pertanian, produksi padi meningkat 36,81 persen dibandingkan tahun 2024 dan mendekati satu juta ton gabah kering giling. NTT pun meraih penghargaan Pin Swasembada Pangan dan masuk lima besar nasional peningkatan produksi. Populasi sapi juga meningkat dari 581.918 ekor pada 2023 menjadi 622.276 ekor pada 2025 atau tumbuh sekitar 6,9 persen.
Sektor pariwisata mencatat pertumbuhan 17,99 persen, didorong berbagai event seperti Tour de EnTeTe (TDE) dengan dampak ekonomi Rp10,21 miliar. Di bidang kesehatan, prevalensi stunting turun dari 21,2 persen menjadi 20,2 persen pada 2025 melalui intervensi berbasis data dan program gizi lokal. Sementara di sektor pendidikan, Rp2,69 miliar dialokasikan untuk membantu 1.154 siswa kurang mampu, serta pembangunan sekolah vokasi berasrama di 10 kabupaten.
Untuk infrastruktur, Rp96,53 miliar digelontorkan guna meningkatkan kemantapan jalan provinsi, disertai usulan Inpres Jalan Daerah. Program elektrifikasi menjangkau 150 kepala keluarga di enam kabupaten. Pemprov juga meluncurkan Program MeJa Rakyat (Melki Johni Melayani Rakyat) sebagai kanal pengaduan publik, dengan 429 laporan telah ditindaklanjuti dalam waktu maksimal 3×24 jam.
Melalui capaian tersebut, Pemprov NTT optimistis fondasi yang telah dibangun pada tahun pertama kepemimpinan Melki–Johni akan mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat pada periode berikutnya. (Sys/ST)

