Natal 2025 hadir tanpa banyak bunyi langkah di ruang tamu. Ia datang lewat cahaya layar, getar pesan singkat, dan suara yang terhubung oleh jarak. Tak ada pelukan yang bisa dirasakan, tak ada meja panjang yang penuh tawa. Namun ada rindu yang diam-diam mengetuk hati.
Dunia hari ini semakin rapat oleh teknologi, tetapi manusia justru sering merasa sendiri. Jarak telah dipangkas oleh jaringan, namun kehangatan kerap tertinggal. Natal tahun ini seakan mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak selalu sejalan dengan kedekatan, dan koneksi tidak selalu berarti kehadiran.
Natal, sejak awal, adalah kisah tentang kedatangan—tentang Allah yang memilih hadir dalam kesederhanaan. Namun realitas masa kini memaksa banyak orang merayakan Natal dalam bentuk yang berbeda. Keluarga terpisah oleh perantauan, pekerjaan, bahkan oleh keadaan hidup yang tak dapat ditawar. Ada yang merayakan Natal dari kamar kos, dari pos jaga, dari ruang sunyi yang tak disangka akan menjadi altar doa.
Di situlah layar mengambil alih peran. Panggilan video menjadi ruang temu, doa dipanjatkan lewat sinyal, dan sapaan Natal mengalir dalam barisan kata pendek. Mungkin terasa asing, tetapi di balik keterbatasan itu, kasih tetap mencari jalan. Sebab Natal tidak hanya soal hadir secara fisik, melainkan tentang hati yang memilih untuk tetap saling menjangkau.
Namun teknologi tidak pernah netral. Ia bisa menjadi jembatan, tetapi juga jurang. Ia dapat mempertemukan, namun juga mengasingkan. Tantangannya adalah bagaimana kita tidak membiarkan Natal larut menjadi sekadar notifikasi, pesan massal yang dikirim tanpa rasa, atau unggahan meriah tanpa makna.
Natal kehilangan jiwanya ketika kasih digantikan formalitas, ketika perhatian dipadatkan dalam satu emoji, dan ketika keheningan batin ditutup oleh hiruk-pikuk digital. Maka, di tengah derasnya arus teknologi, Natal mengajak kita untuk melambat—untuk hadir sepenuh hati, meski hanya lewat suara. Justru di era inilah kasih diuji.
Ketika pelukan tak mungkin diberikan, apakah perhatian masih bisa tulus? Ketika jarak tak terjembatani tubuh, apakah empati masih bisa menyeberang? Jawabannya ada pada pilihan kita.
Percakapan virtual menjadi sakral ketika kita sungguh mendengar. Pesan singkat menjadi doa ketika lahir dari kepedulian. Bahkan layar kecil di tangan kita bisa menjadi jendela harapan bagi mereka yang kesepian, terluka, dan terpinggirkan.
Natal juga mengingatkan bahwa kasih tidak boleh berhenti di lingkar terdekat. Teknologi memberi kesempatan untuk memperluas makna kelahiran Sang Juruselamat—menjangkau mereka yang lapar, yang kehilangan rumah, yang hidup sendiri dalam senyap. Dari genggaman tangan, solidaritas dapat bergerak; dari ruang digital, terang dapat dinyalakan.
Pada akhirnya, Natal 2025 bukan tentang seberapa dekat kita secara fisik, melainkan seberapa dalam kita berani hadir sebagai manusia. Layar boleh membatasi sentuhan, tetapi tidak pernah bisa membatasi kasih—selama hati tidak memutuskan hubungan.
Di tengah dunia yang kian bising namun hampa, Natal berbisik pelan: bahwa kasih tidak membutuhkan ruang yang luas, cukup hati yang bersedia.
Selamat menyambut kelahiran Sang Raja Damai, Tuhan kita Yesus Kristus, dalam perayaan Natal 2025 dan menyongsong Tahun Baru 2026. Kiranya damai lahir di hati, bertumbuh dalam tindakan, dan mengalir ke setiap kehidupan yang kita sentuh—meski hanya lewat layar. (*)

