KUPANG – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pelayanan kesehatan daerah melalui Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit (hospital-based) Batch III.
Dalam program nasional tersebut, NTT mencatatkan jumlah peserta terbanyak dengan mengirimkan tujuh dokter dari total 58 peserta seluruh Indonesia.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan langkah nyata negara dalam mendorong pemerataan layanan kesehatan, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah pinggiran seperti NTT.
“Program ini dirancang berbasis kebutuhan daerah serta memprioritaskan putra-putri asli daerah, sehingga setelah menyelesaikan pendidikan mereka dapat kembali mengabdi di wilayah masing-masing,” ujar Gubernur Melki, Senin (2/3/2026).
Adapun tujuh dokter asal NTT yang mengikuti PPDS berbasis rumah sakit Batch III tersebut yakni dr. Meicyana Nona Pita asal Kabupaten Manggarai Barat dan dr. Netta Lionora dari Kabupaten Nagekeo yang mengambil spesialis Ilmu Kesehatan Anak di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita.
Selanjutnya, dr. Joy January Almighty Solideo Ninu asal Kabupaten Sabu Raijua mengikuti pendidikan spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita.
Dua dokter lainnya, yakni dr. Febrianto Elivas Haba Bunga dari Kabupaten Belu dan dr. Juli Arsen asal Kota Kupang menempuh pendidikan spesialis Neurologi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono.
Sementara itu, dr. Rachmadsyah Ramadhan asal Kabupaten Alor mengikuti spesialis Ilmu Kesehatan Mata di Rumah Sakit Mata Cicendo, dan dr. Samuel Yan Touw dari Kabupaten Timor Tengah Utara mengambil spesialis Orthopedi dan Traumatologi di Rumah Sakit Orthopedi Dr. Soeharso.
Menurut Gubernur Melki, pemerintah provinsi akan berkoordinasi dengan para bupati dan wali kota guna memastikan penempatan para dokter spesialis tersebut tepat sasaran setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain itu, Pemprov NTT juga menyiapkan dukungan tambahan agar para dokter tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi benar-benar kembali dan mengabdi di daerah asalnya.
Ia berharap, dengan bertambahnya jumlah dokter spesialis di NTT, masyarakat tidak lagi harus dirujuk jauh ke luar daerah atau ke Pulau Jawa untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lanjutan.
“Pelayanan kesehatan ke depan harus semakin dekat, lebih terjangkau, dan berkualitas bagi masyarakat NTT,” tegasnya.
Program PPDS berbasis rumah sakit sendiri menjadi salah satu strategi pemerintah pusat untuk mengatasi ketimpangan distribusi tenaga medis nasional sekaligus memperkuat sistem layanan kesehatan di daerah terpencil dan kepulauan. (Sys/ST)

