KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri panen simbolis jagung di Naibonat, Kabupaten Kupang, Rabu (1/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan program Ekosistem Jagung Gotong Royong yang melibatkan kolaborasi lintas sektor di NTT.
Dalam kesempatan itu, Gubernur melihat langsung hasil peningkatan produksi jagung yang sebelumnya hanya berkisar 1,5 hingga 2 ton per hektare, kini mampu mencapai 5 hingga 6 ton per hektare.
“Hasil ini sangat menggembirakan. Ini bukti bahwa ketika pemerintah, kepolisian, perbankan, swasta, dan petani bergerak bersama, hasilnya bisa berlipat ganda,” ujar Melki Laka Lena.
Program Ekosistem Jagung Gotong Royong tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Provinsi NTT, Polda NTT, Tani Optima Group, Bank NTT, serta kelompok-kelompok tani setempat.
Melalui kerja sama tersebut, petani mendapatkan pendampingan teknis, akses pembiayaan, hingga pengawasan dalam proses budidaya, sehingga seluruh tahapan produksi berjalan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Menurut Gubernur, keberhasilan ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang menekankan penguatan sektor pertanian melalui keterlibatan aparat negara, di mana TNI mendukung pengembangan padi sementara Polri berperan dalam pengembangan komoditas jagung.
Selain peningkatan produksi, komoditas jagung juga dinilai semakin menjanjikan secara ekonomi. Saat ini harga jagung di tingkat petani berada di kisaran Rp6.400 per kilogram, yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani di daerah tersebut.
Meski demikian, Gubernur menegaskan bahwa pengembangan sektor jagung tidak boleh berhenti pada tahap panen semata. Ia mendorong agar hilirisasi produk jagung terus dikembangkan sehingga dapat menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Kita tidak boleh berhenti di panen. Hilirisasi harus didorong agar jagung bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi UMKM,” tegasnya.
Melki Laka Lena juga menilai NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas jagung karena didukung oleh luasnya lahan kering yang tersedia.
Menurutnya, apabila model kolaborasi seperti ini direplikasi secara konsisten di berbagai wilayah di NTT, maka produksi jagung dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Ia pun mengajak para petani dan penyuluh pertanian untuk terus bergerak cepat dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Setelah panen, segera siapkan musim tanam berikutnya agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.
Gubernur juga berharap jagung dapat kembali menjadi identitas pangan lokal sekaligus menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur.(Sys/ST).

