spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PKK NTT Dorong Pertanian Organik Terintegrasi untuk Atasi Stunting

KUPANG – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong inovasi penanganan stunting berbasis pertanian organik terintegrasi yang dapat dimulai dari halaman rumah.

“Melalui pertanian organik terintegrasi, kita menggunakan bahan lokal alami tanpa campuran kimia. Pupuk dan pestisida dibuat dari bahan organik, dan semuanya bisa dimulai dari halaman rumah,” kata Gestianus Sino, Bidang III Ketahanan Pangan PKK NTT sekaligus petani milenial, dalam Rapat Koordinasi Daerah PKK se-NTT, Jumat (29/8).

Ia memaparkan bahwa model pertanian organik terintegrasi bukan hanya menjaga kesehatan keluarga melalui asupan gizi alami, tetapi juga berdampak pada penurunan angka stunting di NTT. Bahkan limbah dapur bisa diolah menjadi bahan berkebun, mulai dari menanam sayuran di polybag, membangun greenhouse, hingga mengembangkan kolam lele bioflok. “Sistem ini juga memberikan dampak ekonomi sehingga membantu keluarga dalam pemenuhan gizi harian,” ujarnya.

Ketua TP PKK Provinsi NTT, Mindriyati Astiningsih, menegaskan pentingnya sinergi antara PKK kabupaten/kota dengan pemerintah daerah dalam isu pencegahan stunting. “PKK NTT perlu memperkuat kolaborasi agar pencegahan stunting semakin efektif,” katanya.

Menurutnya, rakor ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi capaian program, menyusun langkah ke depan, dan memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak. “PKK di semua tingkatan harus terus berkolaborasi demi penguatan ketahanan pangan,” tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut prevalensi stunting di provinsi itu menurun dari 63.804 anak pada 2023 menjadi 61.961 anak pada 2024. (ant/ST)

Editor: Agus S

Most Popular