SOE, TTS – Proyek peningkatan jalan rabat beton sepanjang 500 meter di Desa Laob, Kecamatan Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), hingga kini belum juga rampung meski telah memasuki tahun 2026. Kondisi tersebut memicu keluhan warga karena aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat ikut terganggu.
Pekerjaan yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025 dengan nilai kontrak Rp329.968.000 itu berlokasi di Dusun II Kaekolin. Berdasarkan kontrak, proyek tersebut seharusnya diselesaikan dalam waktu 90 hari kalender. Namun hingga saat ini, masih terdapat bagian ruas jalan yang belum dikerjakan.
Material proyek yang menutup badan jalan disebut menghambat aktivitas warga, terutama saat mengangkut hasil pertanian untuk dipasarkan ke luar desa. Warga mengaku kondisi semakin sulit ketika musim hujan tiba.
“Kalau musim hujan kami seperti terisolir karena dihimpit dua sungai. Ini satu-satunya jalan keluar. Kalau tidak segera diselesaikan, masyarakat sangat kesulitan dan perekonomian jadi terhambat,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Jumat (20/2/2026).
Ia berharap pemerintah desa dan pihak pelaksana segera menuntaskan pekerjaan tersebut. “Apalagi ini sudah tahun 2026, jadi kami minta segera diselesaikan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Simon Petrus Jami terkait pekerjaan jaringan perpipaan di desa itu yang disebut telah melewati batas waktu penyelesaian sejak 26 November 2025 namun belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Menurut Simon, pemasangan jaringan pipa di sepanjang bahu jalan berpotensi menimbulkan persoalan baru jika suatu saat pemerintah kabupaten melakukan perbaikan jalan.
“Kalau suatu saat ada perbaikan jalan kabupaten, pasti pipa-pipa ini akan jadi korban. Selain itu kalau jalan sudah diperbaiki dan pipa tetap terkubur di bahu jalan, maka akan sulit diperbaiki kalau terjadi kerusakan,” jelasnya.
Terkait progres rabat jalan, warga menyebut sebagian pekerjaan telah diselesaikan mulai dari deker hingga ujung tikungan. Namun masih tersisa sekitar 150 meter ruas jalan lurus yang belum tersentuh pengerjaan.
Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Roni Bana belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi sebanyak empat kali melalui telepon. Kepala Desa Laob, Jeheskial Pay, juga belum memberikan respons meski telah dihubungi hingga tujuh kali.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa maupun pelaksana kegiatan terkait penyebab keterlambatan penyelesaian proyek tersebut. (Sys/ST)

