spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Raja Kontrak Seminggu

Cerpen, Oleh :
Lefinus Asbanu, S.Pd.
(Jurnalis, Pegiat, dan Penggerak Literasi Daerah)

Di desa kami, ada satu musim yang lebih ditunggu daripada musim hujan.

Musim itu namanya: musim anak kelas enam yang mau ujian akhir sekolah.

Musim ini datang setahun sekali, biasanya sekitar waktu ujian akhir. Tandanya jelas: ayam kampung mulai gelisah, kayu bakar menumpuk, dan anak-anak kecil mendadak dipanggil dengan suara paling lembut yang pernah diproduksi orang tua mereka.

Jabatan ini bersifat kontrak seminggu, tanpa gaji, tapi fasilitasnya luar biasa.

Dan tahun itu… aku terpilih.

Tanda-tanda pelantikan dimulai sejak subuh.

Ibu membangunkanku dengan suara selembut kapas.

“Bangun, Nak… air panas sudah siap.”

Aku langsung duduk tegak. Air panas? Di rumah kami, air panas biasanya hanya muncul kalau ada orang sakit, kepala dusun atau guru datang berkunjung. Tapi pagi itu, air panas disiapkan khusus untukku.

Aku mandi dengan perasaan seperti pejabat yang mau rapat nasional, padahal tujuanku cuma ruang kelas dengan meja goyang dan dinding sekolah yang tembus pandang.

Keluar dari kamar mandi, dua telur rebus sudah menunggu.

“Makan semua. Biar pintar.”

Sejak itu aku yakin, kepintaran pasti bersembunyi di dalam telur, cuma selama ini kami tidak punya cukup dana untuk mengeluarkannya.

Ujian akhir diadakan gabungan beberapa sekolah. Halaman sekolah penuh orang tua, kayu bakar, periuk, dan ayam yang nasibnya sangat tidak beruntung minggu itu.

Setiap hari ayam dipotong.
Setiap hari kami makan daging.

Aku curiga, kalau ujian diperpanjang sebulan, ayam di desa bisa masuk daftar hewan langka.

“Anak kelas enam tidak boleh kurang gizi,” kata seorang bapak sambil mengipasi api.

Padahal lima tahun sebelumnya, kami lari-lari ke sekolah dengan perut diisi harapan dan angin pagi.

Kami duduk makan berjejer seperti pasukan mau berangkat perang. Bedanya, tentara bawa senjata, kami bawa pensil yang ujungnya sudah digigit separuh.

Yang paling mengejutkan bukan makanannya.

Tapi larangannya.

“Jangan panjat pohon! Nanti otakmu goyang!”
“Jangan gembala sapi! Nanti capek, ilmunya kabur!”
“Jangan lari-lari! Nanti jawabanmu ikut jatuh!”

Tiba-tiba aku jadi anak paling rapuh sedunia. Biasanya sepulang sekolah aku gembala sapi, panjat jambu, lari di kebun. Tapi minggu itu, semua pekerjaan dibebaskan. Tugasku hanya satu: jadi pintar.

Aku duduk saja di rumah seperti bangsawan kecil yang sedang karantina. Adikku sampai iri melihat jabatan baruku.

Di ruang ujian, suasananya mendadak sunyi. Sunyi yang aneh. Seperti semua orang tiba-tiba lupa cara bernapas normal.

Aku menatap lembar soal. Huruf-hurufnya banyak, panjang-panjang, dan kelihatannya sangat yakin dengan diri mereka sendiri.

Pelan-pelan aku menoleh ke Melkias di sampingku.

“Eh… nomor satu itu tanya apa?” bisikku.

Melkias mengerutkan dahi.
“Bahasa apa itu? Kayaknya bukan bahasa kita,” jawabnya pelan.

Kami memang lebih lancar bicara bahasa ibu daripada bahasa Indonesia. Di rumah, di kebun, di jalan, semua pakai bahasa sendiri. Bahasa Indonesia biasanya cuma muncul di buku… dan sekarang di kertas soal yang terasa seperti kiriman dari kota lain.

Dari belakang terdengar bisikan lain.

“‘Jelaskan’ itu artinya apa?” tanya seorang teman.
“Mungkin suruh kita cerita… tapi cerita apa?” sahut yang lain.

Kami saling pandang. Bukan karena tahu jawabannya, tapi karena sama-sama tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku memegang pensil erat-erat, berharap telur rebus pagi tadi bisa membantu menerjemahkan soal-soal ini di dalam kepalaku.

Di luar jendela, asap dapur orang tua masih terlihat. Mereka mungkin berpikir kami sedang bertarung dengan pelajaran.

Padahal di dalam kelas, sebagian dari kami sedang bertarung dulu dengan bahasanya.

Sebagai anak kecil, aku tetap senang. Dimandikan air panas. Diberi telur tiap pagi. Makan daging ayam setiap hari. Tidak dimarahi. Tidak disuruh kerja.

Aku sempat berharap ujian akhir diadakan tiap bulan. Demi pendidikan tentu saja.

Tapi di sela kebahagiaan itu, ada satu pikiran kecil:

Kenapa aku baru sepenting ini sekarang?

Bertahun-tahun kemudian, aku mengerti.

Orang tuaku bukan tidak peduli sebelumnya. Mereka hanya percaya masa depan anak ditentukan oleh satu minggu sakral bernama ujian akhir. Jadi perhatian dikumpulkan lima tahun… lalu dikeluarkan sekaligus.

Kami, anak-anak desa itu, pernah jadi raja.

Dimandikan air panas.
Diberi telur.
Diberi makan daging ayam tiap hari.
Dilarang kerja supaya “otak fokus”.

Tapi kerajaan itu hanya bertahan seminggu.

Setelah ujian selesai, kami kembali ke kehidupan normal: mandi air dingin, gembala sapi, panjat pohon, dan makan daging ayam… kalau ayamnya “meninggal” secara alami.

Sekarang kalau mengingat masa itu, aku sering tertawa sendiri.

Ternyata cinta orang tua di desa itu besar sekali.

Hanya saja…
datangnya sering mengikuti jadwal ujian akhir sekolah. (*)

Most Popular