spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Rektor Undana: Pencegahan Rabies di NTT Butuh Peran Aktif Masyarakat

KUPANG – Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Maxs Sanam, menegaskan bahwa penanganan rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, peran serta masyarakat menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penyebaran penyakit mematikan tersebut.

“Penanganan pencegahan rabies ini butuh komitmen dari semua pihak, termasuk masyarakat. Jadi bukan hanya pemerintah yang bekerja,” kata Prof. Maxs di Kupang, Rabu (27/8), menanggapi langkah Pemprov NTT dalam mengendalikan rabies.

Data pemerintah menunjukkan, sejak Januari hingga Agustus 2025 terdapat 16.939 kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) di NTT, yang tersebar di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Timor Tengah Selatan (TTS), Sikka, Nagekeo, Lembata, dan Ngada. Dari jumlah tersebut, tercatat 20 korban meninggal dunia akibat gigitan anjing rabies.

Prof. Maxs menilai kasus rabies di Inggris seharusnya menjadi pelajaran penting bagi masyarakat NTT. Di negara itu, rabies pernah masuk, namun berhasil ditangani hanya dalam waktu enam bulan melalui kepatuhan masyarakat terhadap aturan pemerintah. “Masyarakat di sana ikut serta mengandangkan dan mengikat hewan-hewan mereka setelah ada imbauan. Sayangnya di NTT kesadaran itu belum tumbuh,” tegasnya.

Ia menyesalkan masih maraknya warga yang membiarkan anjing mereka berkeliaran bebas, meski sudah ada aturan larangan. Bahkan, penyelundupan anjing dari Flores ke Pulau Timor masih terus terjadi, padahal kebijakan itu diterapkan untuk mencegah meluasnya penyebaran rabies.

Peristiwa di Flores dan beberapa daerah di Pulau Timor, seperti Kabupaten TTS yang menimbulkan banyak korban jiwa, dinilai tidak memberikan efek jera bagi sebagian masyarakat. “Justru warga secara bebas tetap melepas anjing mereka, sehingga kasus gigitan terus terjadi,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Maxs berharap agar masyarakat lebih taat aturan dan benar-benar mendukung upaya pencegahan rabies yang sedang digencarkan pemerintah. “Kalau ditangani dengan baik, kasus baru bisa dicegah. Tetapi kalau kesadaran masyarakat masih lemah, ancaman rabies akan tetap menghantui,” pungkasnya. (ant/ST)

Editor: Agus S

Most Popular