spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

TTS Nomor Dua Tertinggi Kekerasan Seksual Anak, Yerim Yoss Fallo: Ini Darurat Moral

SOE, TTS – Kabupaten Timor Tengah Selatan kembali mendapat sorotan kelam setelah tercatat sebagai daerah dengan kasus kekerasan seksual terhadap anak tertinggi kedua di NTT. Situasi ini memicu keprihatinan mendalam sekaligus kemarahan Anggota DPRD TTS, Yerim Yoss Fallo, yang menyebut kondisi tersebut sebagai darurat moral yang mengancam masa depan generasi TTS.

Dalam kegiatan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Desa Benlutu, Kecamatan Batuputih, Jumat (21/11/2025), Yerim menyampaikan pernyataan keras yang mengguncang.

“Kasus kekerasan seksual terhadap anak di TTS sangat tinggi. Kita nomor dua tertinggi! Ini tidak bisa dianggap biasa. Kita semua harus bergerak—pemerintah, DPRD, P3A, Polres, Kejaksaan, Pengadilan, tokoh agama, gereja, pemuda. Jangan menyerah!” tegas Yerim.

Ia menyoroti fakta bahwa sebagian besar pelaku justru orang-orang terdekat korban, seperti ayah tiri, paman, tetangga, hingga kakak kandung. Menurutnya, pola ini menunjukkan adanya masalah serius yang tidak hanya menyangkut hukum, tetapi juga budaya dan moral masyarakat.

“Ini bukan lagi sekadar kasus. Ini luka sosial yang membusuk,” ujar Yerim.

Dalam setahun terakhir, TTS terus diguncang rentetan kasus memilukan, mulai dari pemerkosaan terhadap anak 12 tahun oleh kerabat dekat hingga pencabulan berulang yang terjadi di rumah korban sendiri. Sebagian kasus bahkan tidak dilaporkan karena keluarga memilih diam demi menjaga harga diri.

“Kita tidak bisa biarkan satu anak pun rusak masa depannya hanya karena kita malas peduli. Kita mulai dari rumah masing-masing. Jadikan rumah kita rumah layak anak,” tegasnya lagi.

Yerim menilai TTS tidak akan keluar dari lingkaran kekerasan seksual apabila masyarakat masih menormalisasi kejahatan, menutupi kasus atas nama hubungan keluarga, atau bahkan menyalahkan korban. Ia menekankan bahwa gereja, sekolah, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum harus bergerak lebih cepat, lebih tegas, dan lebih berani.

“Setiap waktu ada korban baru. Jangan tunggu ada korban di rumah kita baru kita bergerak. Mulai sekarang, dari rumah sendiri,” seru Yerim.

Ia menutup pernyataannya dengan kalimat yang menghentak: “Kalau kita tidak perang hari ini, besok generasi TTS tinggal nama!”

Sosialisasi di Benlutu tersebut menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali seluruh elemen masyarakat bahwa kondisi TTS sudah memasuki fase mengkhawatirkan dan membutuhkan respons serius serta tindakan nyata. (Sys/ST)

Most Popular