Oleh: Lefinus Asbanu, S.Pd.
Beberapa tahun terakhir, sekolah-sekolah di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), berlomba-lomba menghadirkan pojok baca. Sudut-sudut kelas disulap menjadi ruang yang menarik dengan rak buku berwarna-warni, dinding yang dihiasi kutipan-kutipan inspiratif, serta dekorasi yang memanjakan mata. Kehadiran pojok baca bahkan menjadi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan sering dipandang sebagai bukti bahwa sekolah memiliki kepedulian terhadap budaya literasi.
Namun, di balik tampilannya yang indah, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: apakah pojok baca benar-benar telah menjadi ruang tumbuhnya budaya literasi, atau justru hanya menjadi pajangan yang kehilangan pembacanya?
Pertanyaan ini semakin relevan ketika kita mencermati kondisi mutu pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Berbagai program literasi terus digalakkan. Sekolah membangun pojok baca, pemerintah menyalurkan buku, guru membiasakan peserta didik membaca sebelum pembelajaran dimulai, dan slogan-slogan literasi menghiasi hampir setiap sudut sekolah. Akan tetapi, berbagai upaya tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Data capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2025 yang dirilis Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa Kabupaten Timor Tengah Selatan masih berada di peringkat ke-21 dari 22 kabupaten/kota di NTT. Fakta ini menjadi alarm bahwa menghadirkan pojok baca saja belum cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan. Yang dibutuhkan bukan sekadar ruang untuk membaca, melainkan budaya membaca yang hidup, berkelanjutan, dan menjadi bagian dari keseharian warga sekolah.
Pojok baca tidak akan mampu mengubah kualitas pendidikan apabila hanya diperlakukan sebagai pelengkap administrasi atau penghias ruang kelas. Rak buku yang tersusun rapi tidak otomatis melahirkan kebiasaan membaca. Dekorasi yang menarik tidak serta-merta meningkatkan kemampuan memahami bacaan. Literasi tidak dibangun oleh fasilitas semata, melainkan oleh aktivitas yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Selama beberapa waktu terakhir, saya berkesempatan mengunjungi berbagai sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Hampir semua sekolah telah memiliki pojok baca dengan tampilan yang cukup menarik. Namun, saya juga menemukan kenyataan yang memprihatinkan. Banyak pojok baca tampak sepi. Buku-bukunya tersusun rapi, tetapi jarang disentuh. Sebagian hanya ramai ketika ada lomba, supervisi, atau kunjungan tamu. Setelah itu, pojok baca kembali menjadi sudut ruangan yang sunyi.
Ironisnya, tidak sedikit sekolah yang lebih sibuk mempercantik pojok baca daripada menghidupkannya. Energi dan anggaran lebih banyak dihabiskan untuk mengecat rak, memasang hiasan, dan menempelkan slogan-slogan literasi. Sementara itu, kegiatan seperti membaca nyaring, diskusi buku, menulis cerita, membuat resensi, atau berbagi pengalaman membaca belum menjadi budaya yang dilakukan secara konsisten.
Ada satu hal lain yang juga menjadi keprihatinan saya. Dari berbagai pojok baca yang saya kunjungi, hampir semuanya dipenuhi buku-buku bantuan pemerintah atau buku bacaan umum. Sangat jarang saya menemukan karya guru maupun karya peserta didik yang telah dibukukan dan dijadikan koleksi utama di pojok baca. Padahal, karya yang lahir dari lingkungan sekolah sendiri memiliki kekuatan luar biasa dalam membangun kepercayaan diri peserta didik.
Bayangkan ketika seorang anak membuka rak buku, lalu menemukan cerita yang ditulis gurunya sendiri atau kakak kelasnya. Ia akan menyadari bahwa menulis bukan hanya milik penulis terkenal, melainkan sesuatu yang dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk dirinya. Dari sanalah mimpi-mimpi kecil mulai tumbuh. Dari sanalah keberanian untuk menulis mulai lahir.
Karena itu, pojok baca seharusnya menjadi etalase kreativitas sekolah. Rak-raknya tidak hanya berisi buku-buku terbitan penerbit besar, tetapi juga dipenuhi buku antologi karya peserta didik, kumpulan puisi guru, cerita rakyat daerah, sejarah desa, kisah inspiratif masyarakat setempat, hingga dokumentasi praktik-praktik baik pembelajaran. Ketika peserta didik membaca karya yang lahir dari lingkungan mereka sendiri, literasi menjadi lebih dekat, lebih bermakna, dan lebih membumi.
Literasi sesungguhnya bukan sekadar kemampuan membaca. Literasi adalah kemampuan memahami, berpikir kritis, berdiskusi, menulis, serta menghasilkan karya yang bermanfaat. Oleh karena itu, keberadaan pojok baca harus diiringi dengan berbagai aktivitas yang menghidupkannya. Membaca selama lima belas menit setiap hari, membaca nyaring, bedah buku sederhana, menulis jurnal membaca, lomba resensi, hingga penerbitan buku karya guru dan peserta didik perlu menjadi agenda rutin sekolah.
Budaya literasi juga tidak boleh dibebankan hanya kepada guru Bahasa Indonesia atau pengelola perpustakaan. Kepala sekolah harus menjadikan literasi sebagai budaya sekolah. Semua guru, apa pun mata pelajarannya, perlu membiasakan peserta didik membaca, berpikir kritis, dan menulis. Orang tua pun perlu menghadirkan kebiasaan membaca di rumah sehingga budaya literasi tumbuh secara utuh, dari sekolah hingga keluarga.
Bagi Kabupaten Timor Tengah Selatan yang masih menghadapi tantangan besar dalam peningkatan mutu pendidikan, sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Keberhasilan literasi tidak lagi diukur dari berapa banyak pojok baca yang dibangun atau seindah apa dekorasinya. Keberhasilan harus diukur dari berapa banyak peserta didik yang membaca setiap hari, berapa banyak buku yang mereka selesaikan, berapa banyak tulisan yang mereka hasilkan, serta berapa banyak karya guru dan peserta didik yang berhasil diterbitkan dan menjadi bacaan bagi generasi berikutnya.
Sekolah juga perlu mulai membangun tradisi menerbitkan buku. Setiap tahun, guru dan peserta didik dapat menghasilkan buku antologi yang kemudian menjadi koleksi utama di pojok baca. Dengan demikian, akan tercipta siklus literasi yang utuh: membaca, menulis, menerbitkan, lalu kembali dibaca oleh peserta didik berikutnya. Pojok baca tidak lagi menjadi gudang buku, melainkan ruang yang melahirkan pembaca sekaligus penulis.
Sudah saatnya kita berhenti berbangga karena memiliki pojok baca yang indah. Yang lebih penting adalah memastikan pojok baca itu selalu dipenuhi anak-anak yang membaca dengan antusias, guru yang mendampingi dengan keteladanan, serta rak-rak yang dipenuhi karya-karya terbaik hasil tangan mereka sendiri.
Pada akhirnya, krisis literasi bukan terjadi ketika sekolah tidak memiliki pojok baca. Krisis itu justru terjadi ketika pojok baca kehilangan pembacanya. Selama pojok baca hanya menjadi pajangan tanpa aktivitas literasi yang hidup, selama itu pula ia tidak akan mampu mengubah wajah pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sebab, literasi bukan sekadar memiliki rak buku, melainkan menghadirkan manusia yang gemar membaca, berani menulis, berpikir kritis, dan mampu melahirkan perubahan melalui ilmu pengetahuan.

