KUPANG – Jalan berbatu yang membelah perbukitan, sinyal internet yang hilang ditelan kesunyian, hingga minimnya fasilitas pendidikan masih menjadi kenyataan yang dihadapi anak-anak di pelosok Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Namun di tengah segala keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak desa tetap menyala, membuktikan bahwa mimpi besar tidak pernah mengenal batas geografis.

Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki menegaskan komitmennya untuk memastikan keadilan pendidikan dapat dirasakan hingga ke wilayah terpencil.

Menurut Aurum, pendidikan bukan sekadar soal gedung sekolah, tetapi menyangkut martabat dan hak setiap anak untuk menentukan masa depannya sendiri.

“Anak-anak desa juga berhak bermimpi besar. Mereka memiliki semangat belajar yang luar biasa meskipun hidup dalam keterbatasan. Tantangan geografis tidak boleh menjadi alasan lahirnya ketimpangan,” tegasnya, Minggu (17/5/2026).

Menyadari luas wilayah Kabupaten Kupang dan kompleksnya tantangan pendidikan di daerah terpencil, Pemerintah Kabupaten Kupang membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga sosial.

Salah satu dukungan nyata datang dari CT Arsa Foundation yang kini aktif mendampingi sekolah-sekolah di wilayah terisolir.

Di SD Negeri 2 Nainifo, Kecamatan Amfoang misalnya, para guru relawan tinggal dan mengabdi langsung di lokasi guna mendampingi proses belajar mengajar.

Program tersebut tidak hanya fokus pada pendidikan di ruang kelas, tetapi juga mencakup penyediaan listrik, akses internet, hingga penguatan teknologi digital di sekolah.

Head of Remote Area CT Arsa Foundation, Didi Putri, menjelaskan pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar sekolah-sekolah terpencil dapat berkembang secara mandiri.

“Relawan akan berganti setiap tahun, namun setiap sekolah mendapat pendampingan hingga lima tahun. Kami tidak hanya mengajar, tapi juga menghadirkan listrik dan internet agar mereka tidak tertinggal zaman,” ujarnya.

READ  Pemkot Kupang dan PT Pos Perkuat Kerja Sama Layanan Logistik dan Keuangan Digital

Upaya itu mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah sekolah dampingan yang sebelumnya harus menumpang ujian komputer di sekolah lain, kini sudah mampu melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) secara mandiri.

Hingga saat ini, CT Arsa Foundation telah mendampingi tiga titik di Kabupaten Kupang dan tujuh titik lainnya di berbagai wilayah NTT.

Di balik perjuangan tersebut, anak-anak pedalaman Amfoang setiap hari masih harus berjalan kaki hingga empat kilometer melewati jalan terjal demi bisa mengenyam pendidikan.

Bagi Aurum, kondisi itu menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan hak asasi yang tidak boleh diskriminatif.

Ia menambahkan, revitalisasi fisik sekolah memang telah masuk dalam agenda pemerintah daerah, namun membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat.

Karena itu, kehadiran relawan pendidikan dinilai menjadi jembatan penting agar tidak ada generasi yang kehilangan harapan hanya karena keterbatasan fasilitas.

“Pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga. Karena pembangunan sumber daya manusia harus menjadi prioritas bersama,” tambahnya.

Dari ruang kelas sederhana di kaki pegunungan Amfoang, harapan perlahan mulai tumbuh. Pendidikan hadir bukan dalam kemewahan gedung, melainkan lewat ketulusan para pengabdi dan langkah kecil anak-anak desa yang berani bermimpi setinggi langit.

Sebab ketika satu ruang kelas di pedalaman tetap menyala, sesungguhnya yang sedang dijaga adalah masa depan bangsa.(Sys/ST)

Most Popular