SOE,TTS – Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai salah satu daerah percontohan pengembangan pertanian di Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 135 petani dari Kabupaten Flores Timur mengikuti program kunjungan belajar di TTS untuk mempelajari praktik pertanian modern dan berkelanjutan.

Kegiatan bertajuk Kunjungan Belajar Petani Flores Timur: Good Agricultural Practices (GAP), Akses Pasar, dan Jejaring Kemitraan tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati TTS, Jhony Army Konay, SH., MH., di Aula Kantor Bappeda TTS, Rabu (10/6/2026).

Program yang berlangsung selama dua pekan, mulai 8 hingga 21 Juni 2026, diikuti oleh 80 petani dari Flores Timur, 20 petani dampingan Plan Indonesia, dan 35 petani dampingan Caritas Indonesia.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Bappenas, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Plan Indonesia, GIZ, Yayasan Krisna Galensya (Krisna Foundation), dan Caritas Indonesia untuk meningkatkan kapasitas petani melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penguatan akses pasar, pembangunan jejaring kemitraan, serta pemberdayaan generasi muda melalui pendekatan Youth-Led Agri-food (YLAF).

Dalam sambutannya, Wakil Bupati TTS menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta. Menurutnya, kunjungan belajar ini menjadi wadah penting untuk memperkuat kerja sama antardaerah sekaligus berbagi pengalaman dalam membangun sektor pertanian yang maju dan berkelanjutan.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dari Kabupaten Flores Timur. Semoga melalui kegiatan ini lahir kolaborasi yang semakin kuat untuk memajukan sektor pertanian di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

Jhony Army Konay menegaskan bahwa tantangan pertanian saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana menerapkan praktik budidaya yang ramah lingkungan, meningkatkan kualitas hasil panen, memperluas akses pasar, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan.

READ  Pemilik Café Kebun Ajak Orang Tua Dorong Anak Berani Berkompetisi Lewat Lomba Nyanyi Anak

Ia menilai penerapan Good Agricultural Practices menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan daya saing produk pertanian sekaligus mendorong kesejahteraan petani.

Selama berada di Kabupaten TTS, para peserta akan belajar langsung di wilayah dampingan Plan Indonesia dan Yayasan Krisna Galensya. Mereka akan mendapatkan materi mengenai hortikultura berkelanjutan, climate-smart agriculture, penguatan kelembagaan kelompok tani, green entrepreneurship, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan usaha tani.

Selain itu, peserta juga akan mempelajari pola kemitraan yang telah berhasil diterapkan di TTS, termasuk membangun jaringan dengan pelaku usaha, lembaga keuangan, dan berbagai institusi pendukung sektor pertanian.

Kabupaten Timor Tengah Selatan dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena dinilai berhasil mengembangkan sistem hortikultura berbasis GAP yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan ekonomi rumah tangga masyarakat. Keberhasilan tersebut lahir dari sinergi antara petani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan berbagai mitra pembangunan.

Para peserta juga diperkenalkan dengan model pemberdayaan Youth-Led Agri-food (YLAF) yang menempatkan generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan sistem pangan lokal yang berkelanjutan.

Di Kabupaten TTS, program tersebut telah melibatkan 411 petani muda, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan perempuan. Program ini berhasil mengembangkan 50 hektare lahan produktif dan memperkuat 39 kelompok tani muda.

Keberhasilan YLAF bahkan mendapat pengakuan nasional melalui penghargaan SDGs Action Awards 2025 kategori Organisasi Masyarakat Sipil Terbaik I dari Kementerian PPN/Bappenas atas kontribusinya dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi generasi muda.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan bahwa pendekatan YLAF membuktikan pemuda mampu menjadi agen perubahan di sektor pertanian jika diberi akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan peluang pasar.

Sementara itu, Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, Setyo Budiantoro, menilai pembelajaran lintas daerah seperti ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

READ  ASN di Kabupaten TTS Menjerit, TPP Tak Kunjung Cair

Menutup sambutannya, Wakil Bupati TTS mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk aktif berdiskusi dan menyerap ilmu sebanyak mungkin.

“Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan akan terus mendukung pengembangan pertanian yang berkelanjutan dan berorientasi pasar, karena petani adalah pilar utama ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.

Dengan dibukanya kegiatan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara TTS dan Flores Timur dalam mengembangkan sektor pertanian yang modern, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.(Sys/ST)

Most Popular