KUANFATU, TTS – Perjalanan hidup yang penuh lika-liku tidak menghalangi Oni Beis, seorang petani asal Desa Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), untuk meraih kesuksesan. Berkat kerja keras dan ketekunan mengelola kebun, pria yang akrab disapa OB itu kini mampu menghidupi keluarganya dan membiayai pendidikan anak-anaknya, bahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Kesuksesan yang diraihnya saat ini bukanlah sesuatu yang instan. OB mengaku pernah menjalani masa kelam sebagai preman dan sempat menjalani hukuman penjara. Namun pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.
“Saya mantan preman dan pernah masuk penjara. Setelah keluar, saya bertekad fokus bekerja dan membangun kehidupan bersama keluarga. Kalau kita punya niat untuk berusaha, pasti ada hasil,” ungkapnya.
Usai menjalani masa hukuman, OB memilih menekuni dunia pertanian. Ia meyakini bahwa keberhasilan dalam bertani tidak bergantung pada latar belakang pendidikan, melainkan pada kemauan belajar dan semangat untuk terus bekerja.
Menurutnya, siapa pun bisa menjadi petani sukses selama memiliki tekad dan konsistensi dalam mengelola lahan.
Komoditas utama yang menjadi sumber penghasilannya adalah tanaman sirih. Saat ini ia mengelola sekitar 700 pohon sirih yang menjadi penopang ekonomi keluarganya. Meski pernah mengalami kerugian akibat hampir 200 pohon sirih mati, ia tidak menyerah dan terus membenahi kebunnya hingga kembali produktif.
Dalam sekali panen, OB mampu menghasilkan sekitar 20 dos sirih ukuran kardus mi instan. Dengan harga jual yang mencapai sekitar Rp500 ribu per dos, pendapatan yang diperoleh bisa menembus lebih dari Rp20 juta ketika harga pasar sedang baik.
Selain sirih, ia juga membudidayakan berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, pare, kangkung, sawi putih, kacang panjang, serta lada. Menurutnya, Desa Kuanfatu memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena didukung kondisi tanah yang subur.
“Banyak jenis tanaman yang bisa tumbuh dengan baik di sini. Selain sirih, lada dan pala juga sangat berpotensi untuk dikembangkan,” katanya.
Bagi OB, kebun merupakan aset yang mampu menjamin kehidupan keluarga. Ia menilai profesi petani tidak boleh dipandang sebelah mata karena mampu memberikan penghasilan yang layak jika dikelola dengan serius.
“Kebun itu mesin uang. Tidak harus menjadi pegawai untuk hidup layak. Dari kebun kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak,” ujarnya.
Jerih payahnya kini membuahkan hasil yang membanggakan. Anak pertamanya tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Kupang dan telah memasuki semester lima. Seluruh biaya kuliah dipenuhi dari hasil pertanian yang ia kelola, dengan pengiriman biaya sekitar Rp300 ribu setiap minggu.
Sementara itu, anak keduanya kini duduk di bangku SMA kelas XI dan anak ketiganya masih menempuh pendidikan di tingkat yang lebih rendah. Ia berharap seluruh anaknya dapat meraih pendidikan setinggi mungkin dan memiliki masa depan yang lebih baik.
OB menegaskan bahwa keberhasilannya membiayai pendidikan anak-anak merupakan hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bergantung pada bantuan pihak lain.
“Kalau kita punya niat untuk berusaha dan tidak mudah menyerah, pasti bisa sukses,” tegasnya.
Kisah Oni Beis menjadi bukti bahwa masa lalu bukanlah penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan kemauan untuk berubah dan semangat bekerja keras, ia berhasil bangkit dari kehidupan kelam menjadi petani sukses yang mampu mengangkat taraf hidup keluarganya sekaligus mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi.(Sys/ST)

