SOE, TTS – Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Eduard Markus Lioe, mengapresiasi keberhasilan SMP Negeri Matpunu yang mampu menerbitkan buku antologi cerpen karya guru dan peserta didik. Capaian tersebut dinilai membuktikan bahwa budaya literasi dapat tumbuh bahkan di sekolah wilayah terpencil, asalkan mendapat pendampingan dan ruang pengembangan yang memadai.
Namun di balik apresiasi itu, Bupati menegaskan bahwa pengembangan literasi tidak boleh berhenti pada inisiatif sekolah semata, melainkan harus diperkuat melalui dukungan kebijakan dan kolaborasi yang berkelanjutan.
“Ini adalah goresan pena guru dan siswa dari daerah terpencil di TTS. Literasi perlu mendapat perhatian serius. Ini menjadi contoh bagi sekolah lain agar tidak hanya fokus pada rutinitas belajar, tetapi juga memberi ruang pada kreativitas dan budaya baca-tulis,” ujar Bupati.
Ia berharap keberhasilan SMP Negeri Matpunu tidak menjadi kasus tunggal, melainkan pemicu bagi sekolah-sekolah lain di TTS untuk bergerak, sekaligus menjadi refleksi bagi pemangku kebijakan agar literasi tidak hanya menjadi slogan program.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten TTS, Levinus Asbanu, S.Pd, menyebut buku antologi cerpen tersebut merupakan hasil pendampingan Forum TBM TTS yang kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan Nyalanesia.
“Saya menyerahkan buku ini langsung kepada Bupati. Beliau memberi apresiasi dan meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membuka ruang kolaborasi seperti ini. Artinya, praktik baik sudah ada, tinggal diperluas secara sistematis,” kata Levinus, Kamis (15/1/2026).
Levinus menambahkan, hingga kini baru 24 sekolah di Kabupaten TTS yang terlibat aktif dan berhasil menghasilkan karya dalam bentuk buku. Angka tersebut dinilai masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada.
“Kalau pemerintah daerah serius mendorong literasi, maka kebijakan yang memberi ruang kolaborasi dan pendampingan menulis harus diperluas. Tanpa itu, potensi anak-anak akan terus terhambat,” tegasnya.(Sys/ST).

