Oleh: Apris Fay, S.KM

Pasar tradisional selalu disebut sebagai denyut nadi ekonomi rakyat. Namun, di balik geliat transaksi yang menghidupi banyak orang, ada persoalan klasik yang terus berulang: limbah, khususnya di lapak ikan.

Kondisi ini juga terlihat di Pasar Inpres SoE, di mana sisa potongan ikan, air cucian, dan bau tak sedap masih menjadi pemandangan sehari-hari.

Masalahnya bukan semata pada adanya limbah—itu sesuatu yang tak terhindarkan dari aktivitas jual beli ikan. Persoalan utamanya adalah bagaimana limbah tersebut dikelola. Ketika dibiarkan tanpa sistem yang jelas, limbah berubah dari sekadar sisa menjadi sumber pencemaran dan ancaman kesehatan.

Sudah saatnya kita berhenti melihat limbah sebagai “urusan belakang” yang bisa diabaikan. Pengelolaan limbah justru harus menjadi bagian utama dari aktivitas pasar itu sendiri. Tanpa itu, sulit berharap pasar tradisional bisa bersaing dari sisi kebersihan dan kenyamanan.

Langkah paling mendasar sebenarnya sederhana: pemilahan limbah sejak dari sumbernya. Pedagang perlu membedakan limbah padat dan cair. Ini bukan konsep rumit, tetapi membutuhkan kebiasaan dan kedisiplinan.

Tanpa pemilahan, semua upaya pengolahan lanjutan akan menjadi sia-sia.
Lebih dari itu, limbah padat seperti isi perut ikan dan sisik sejatinya masih memiliki nilai ekonomis. Dengan sedikit kreativitas dan kemauan, limbah tersebut bisa diolah menjadi pupuk organik atau pakan ternak. Artinya, ada peluang ekonomi baru yang selama ini terbuang percuma.

Di sisi lain, limbah cair kerap menjadi sumber masalah terbesar. Air cucian ikan yang langsung dibuang ke selokan bukan hanya menimbulkan bau, tetapi juga mempercepat kerusakan saluran drainase.
Tanpa intervensi sederhana seperti saringan atau bak penampung, persoalan ini akan terus berulang.

Namun, membebankan semua tanggung jawab kepada pedagang juga bukan solusi. Pengelola pasar harus hadir dengan aturan yang jelas, fasilitas yang memadai, dan pengawasan yang konsisten. Tanpa dukungan ini, ajakan menjaga kebersihan hanya akan menjadi slogan.

READ  SoE di Ujung Waktu: 103 Tahun Menjaga Warisan, Menyulam Peradaban

Yang tak kalah penting adalah membangun kesadaran bersama. Kebersihan pasar bukan hanya tanggung jawab pedagang, tetapi juga pembeli dan semua pihak yang terlibat. Perubahan perilaku memang tidak instan, tetapi harus dimulai dari sekarang.

Pengelolaan limbah yang baik sejatinya adalah cerminan dari cara kita memandang pasar itu sendiri. Apakah pasar hanya sekadar tempat transaksi, atau ruang bersama yang layak dijaga martabatnya?

Jika dikelola dengan serius, Pasar Inpres SoE bukan tidak mungkin menjadi contoh pasar tradisional yang bersih, sehat, dan nyaman. Ini bukan sekadar soal estetika, tetapi tentang kualitas hidup dan masa depan lingkungan.

Pada akhirnya, cara kita memperlakukan limbah hari ini akan menentukan seperti apa lingkungan yang kita wariskan esok hari. Pasar yang bersih bukan mimpi—ia hanya membutuhkan komitmen bersama untuk mewujudkannya.

Most Popular