BORONG – Emanuel Melkiades Laka Lena mengakui kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tertinggal dibandingkan banyak provinsi lain di Indonesia.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT meluncurkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Jam Belajar Masyarakat sebagai langkah membangun kembali budaya belajar di lingkungan keluarga.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri Sosialisasi Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Jam Belajar Masyarakat, peluncuran buku Transformasi Dimulai dari Kelas, dan Launching NTT Mart by OSOP di SMK Negeri 1 Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Sabtu (4/7/2026).
Kegiatan itu dihadiri Agas Andreas, para kepala sekolah, pengawas, guru, serta ratusan siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA/SMK se-Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam arahannya, Gubernur mengungkapkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menempatkan NTT di peringkat ke-36 secara nasional. Menurutnya, fakta tersebut harus diterima sebagai bahan evaluasi agar kualitas pendidikan di daerah dapat terus ditingkatkan.
“Kalau ada sekolah yang bagus atau ada siswa yang berprestasi itu patut diapresiasi. Tetapi secara umum kita harus jujur bahwa kualitas pendidikan NTT masih perlu dibenahi bersama,” ujarnya.
Melki mengatakan salah satu penyebab menurunnya kualitas pendidikan adalah berkurangnya pendampingan orang tua terhadap anak di rumah. Karena itu, melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026, pemerintah menetapkan Jam Belajar Masyarakat setiap pukul 18.00 hingga 19.30 WITA.
Pada jam tersebut, keluarga diharapkan mematikan aktivitas yang mengganggu dan memanfaatkan waktu untuk mendampingi anak membaca, belajar, berdiskusi, maupun mengerjakan tugas sekolah.
“Pergub ini mengajak kita semua agar anak-anak dididik dengan baik, baik di sekolah maupun di rumah,” tegasnya.
Dalam dialog bersama siswa, Gubernur memberikan soal matematika kepada sejumlah peserta didik. Januar, siswa kelas II SD, dan Dean, siswa kelas IX SMP Negeri 1 Borong berhasil menjawab dengan benar sehingga memperoleh hadiah dari Gubernur.
Sementara itu, dua siswi SMA justru menyampaikan kondisi yang menjadi perhatian. Izka dari SMA Negeri 7 Borong mengaku masih ada teman-temannya yang belum memiliki kemampuan akademik memadai untuk naik kelas. Hal serupa disampaikan Seren dari SMA Negeri 2 Borong yang menilai kemampuan membaca, berhitung, dan literasi sebagian siswa masih rendah.
Bagi Gubernur, pengakuan para siswa tersebut menjadi cerminan bahwa tantangan pendidikan di NTT masih nyata dan membutuhkan kerja sama semua pihak, terutama keluarga dan sekolah.
Selain fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, Gubernur juga meluncurkan NTT Mart by OSOP sebagai upaya memperkuat pemasaran produk-produk unggulan daerah.
Ia menjelaskan, selama ini NTT masih mengalami defisit perdagangan karena banyak kebutuhan masyarakat dipenuhi dari luar daerah. Salah satu contohnya adalah komoditas pinang yang nilai pembeliannya mencapai sekitar Rp1 triliun setiap tahun.
Melalui NTT Mart, pemerintah ingin menghubungkan produk lokal dengan pasar yang lebih luas melalui konsep One Village One Product (OVOP), One Commodity One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP).
Menurut Melki, sekolah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun karakter dan jiwa kewirausahaan.
“Anak-anak, bermimpilah menjadi pengusaha. Saya percaya anak-anak NTT mampu menjadi pengusaha yang sukses,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Wilayah VI, Adrianus Ngongo, mengatakan buku Transformasi Dimulai dari Kelas merupakan kumpulan gagasan dan pengalaman para pengawas, kepala sekolah, serta guru di Manggarai Timur dalam mendorong perubahan dunia pendidikan.
Ia berharap budaya literasi yang telah tumbuh di Manggarai Timur terus berkembang, bahkan edisi berikutnya akan melibatkan para siswa sebagai penulis.
Peluncuran Peraturan Gubernur tentang Jam Belajar Masyarakat, buku Transformasi Dimulai dari Kelas, dan NTT Mart by OSOP menjadi bagian dari strategi Pemerintah Provinsi NTT dalam membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus memperkuat ekonomi lokal menuju NTT yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.(Sys/ST)

