RUTENG – Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Karena itu, membangun budaya belajar di rumah harus berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas dan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur saat melakukan kunjungan kerja di SMK Sadar Wisata Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu (4/7/2026).
Dalam kegiatan itu, Gubernur menyosialisasikan Peraturan Gubernur NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat, meluncurkan Dapur Flobamorata, meresmikan NTT Mart by One School One Product (OSOP), sekaligus melaunching buku karya para pengawas, kepala sekolah, dan guru SMA/SMK/SLB Kabupaten Manggarai berjudul Kelas Ruang Navigasi Peradaban.
Menurut Melki, seluruh program tersebut saling berkaitan dalam membangun kualitas sumber daya manusia di NTT. Gerakan Jam Belajar bertujuan membiasakan anak belajar di rumah bersama keluarga, sementara OSOP dan NTT Mart menjadi wadah bagi sekolah untuk melatih kreativitas, keterampilan, serta kewirausahaan para siswa.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Anak-anak lebih banyak berada di rumah dan di tengah masyarakat. Karena itu kita semua harus menjadi bagian dari proses mendidik mereka,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) masih menempatkan NTT pada posisi bawah secara nasional. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama yang harus diperbaiki melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Melalui Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026, Pemerintah Provinsi NTT mengajak seluruh masyarakat menyediakan waktu belajar setiap hari pukul 18.00 hingga 19.30 WITA agar anak-anak memiliki kesempatan membaca, belajar, dan berdiskusi bersama orang tua.
Namun, menurut Gubernur, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan nilai akademik. Sekolah juga harus mampu melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, dan memiliki kemampuan mengembangkan potensi daerah menjadi produk bernilai ekonomi.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT mengembangkan program One School One Product (OSOP) sebagai bagian dari gerakan One Village One Product (OVOP) dan One Community One Product (OCOP) yang dipasarkan melalui NTT Mart.
“Kita ingin sekolah menjadi tempat lahirnya inovasi. Anak-anak belajar menghasilkan karya, mencintai produk daerahnya, sekaligus memahami bahwa kreativitas memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Dalam dialog bersama para siswa, Gubernur mendengarkan berbagai kisah inspiratif tentang karya yang dihasilkan sekolah masing-masing.
Seorang guru SD menceritakan murid-muridnya telah terbiasa membuat pot bunga dari barang bekas sebagai bagian dari pembelajaran kreatif.
Sela, siswi kelas IX SMP Imakulata, mengaku sejak kelas VII telah belajar membuat bingkai foto, pot bunga, hingga berbagai makanan lokal yang dipasarkan kepada masyarakat.
Sementara Gilbert dari SMA Santo Fransiskus Xaverius Ruteng menjelaskan bahwa karya tulis para siswa berhasil diterbitkan menjadi buku, selain sekolah juga aktif menghasilkan berbagai produk ekonomi kreatif berbahan baku lokal.
Cerita tak kalah menarik disampaikan Nadia dari SMK Sadar Wisata Ruteng. Ia mengungkapkan kain tenun Songke hasil karya siswa pernah dilelang pada Gebyar SMK di Kupang dan seluruhnya berhasil terjual.
Suasana semakin meriah ketika Ica, siswa kelas VI SDK Ruteng VI, menceritakan bahwa sekolahnya mengajarkan pembuatan gitar sederhana sebagai hasil karya siswa.
Saat ditanya harapannya kepada pemerintah, Ica menjawab singkat, “Yang penting jadi suporter.”
Jawaban polos itu langsung disambut tepuk tangan para peserta.
Bagi Gubernur, jawaban tersebut menjadi pesan bahwa anak-anak membutuhkan dukungan, kesempatan, dan kepercayaan agar berani berkarya.
“Itulah mengapa kita membangun OSOP dan NTT Mart. Kita ingin karya anak-anak memiliki ruang untuk dikenal dan dipasarkan. Yang paling berharga bukan sekadar hasil penjualannya, tetapi tumbuhnya rasa percaya diri bahwa karya mereka bernilai,” katanya.
Melki juga mengingatkan bahwa NTT masih mengalami defisit perdagangan karena sebagian besar kebutuhan masyarakat dipenuhi dari luar daerah. Oleh sebab itu, sekolah diharapkan menjadi bagian dari solusi dengan membangun kebiasaan mencipta, mengolah potensi lokal, serta menumbuhkan kebanggaan menggunakan produk daerah.(Sys/ST)

