spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Merokok Membuat Hidup Jadi Redup

Merokok mungkin dianggap hal biasa oleh sebagian orang. Namun bagi banyak orang lainnya, asap rokok adalah gangguan nyata—bahkan ancaman kesehatan. Aktivitas ini tidak hanya merugikan perokok aktif, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Ironisnya, kebiasaan yang jelas berdampak buruk bagi kesehatan justru masih dinormalisasi, termasuk di kalangan remaja.

Coba gunakan logika sederhana. Ketika seseorang divonis mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau batuk kronis, saran pertama dokter hampir selalu sama: berhenti merokok. Banyak perokok baru benar-benar berhenti setelah jatuh sakit. Pertanyaannya sederhana: jika rokok tidak berbahaya, mengapa harus dihentikan ketika kesehatan terganggu?

Masalahnya kini bukan lagi soal peringatan, melainkan kebiasaan yang telah dianggap lumrah.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang, dan sebagian di antaranya berasal dari kelompok usia remaja.

Bahkan usia 10–18 tahun sudah masuk dalam statistik perokok. Ini bukan sekadar angka, melainkan gambaran generasi masa depan yang paru-parunya sejak dini dilatih menghirup racun.

Remaja mulai merokok bukan karena kebutuhan, melainkan karena rasa ingin tahu, pengaruh lingkungan pertemanan, dan pencarian citra diri. Ada yang ingin terlihat dewasa, ada yang penasaran, ada pula yang merasa “lebih tenang” setelah merokok.

Padahal, ketenangan itu semu – hasil kerja nikotin yang memengaruhi sistem saraf dan menciptakan ketergantungan.
Di dalam rokok terdapat nikotin (zat adiktif), tar (bersifat karsinogenik), dan karbon monoksida (gas beracun tanpa warna dan bau). Tubuh manusia tidak membutuhkan satu pun dari zat tersebut.

Sebagai guru IPA di SMP Negeri Tumu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, saya menyaksikan langsung bagaimana rokok mulai menyentuh dunia anak-anak. Karena itu, saat mengajarkan materi zat adiktif, pembelajaran tidak berhenti pada teori.

Peserta didik diajak melakukan percobaan sederhana untuk melihat langsung dampak asap rokok. Dengan alat seadanya—botol bekas, selang, tisu, dan plastisin—kami mensimulasikan proses masuknya asap rokok ke dalam “paru-paru buatan”. Ketika asap dari rokok konvensional maupun rokok elektrik dialirkan dan disaring melalui tisu, tampak jelas noda kecokelatan yang tertinggal.

Anak-anak terdiam. Mereka tidak lagi hanya mendengar kata bahaya, tetapi melihat bukti visual dari racun yang masuk ke tubuh perokok.
Yang lebih mengejutkan, rokok elektrik pun meninggalkan residu. Selama ini banyak siswa mengira vape lebih aman. Padahal, yang berubah hanya bentuknya—bukan risikonya bagi sistem pernapasan.

Di sinilah sekolah memiliki peran strategis: bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membangun kesadaran. Pendidikan kesehatan tidak cukup lewat slogan “merokok membunuhmu” di bungkus rokok. Anak-anak perlu melihat, merasakan, dan memahami sendiri dampaknya.

Kita tidak bisa berharap lahirnya generasi sehat jika lingkungan sosial masih memaklumi kebiasaan yang jelas merusak. Orang dewasa merokok di depan anak-anak, iklan rokok tampil kreatif dan persuasif, sementara rokok masih mudah diakses. Lalu kita heran mengapa remaja ikut-ikutan.

Rokok memang memberi sensasi sesaat, tetapi perlahan meredupkan kualitas hidup: paru-paru melemah, jantung terbebani, ekonomi terkuras, dan keluarga ikut menanggung risiko sebagai perokok pasif.

Jika kita sungguh peduli pada masa depan anak-anak, maka edukasi bahaya rokok harus menjadi gerakan bersama—sekolah, keluarga, dan masyarakat. Anak-anak tidak membutuhkan rokok untuk terlihat dewasa. Yang mereka butuhkan adalah pengetahuan, dukungan, dan lingkungan yang sehat.

Karena pada akhirnya, rokok tidak membuat hidup terlihat keren; rokok membuat hidup pelan-pelan menjadi redup.

Oleh:
Adrianus Kause, S.Pd., Gr.
Guru IPA SMP Negeri Tumu

Most Popular