KUPANG – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga 30 Juni 2026, nilai KUR yang telah disalurkan mencapai Rp1,714 triliun kepada 33.460 debitur, atau meningkat 25,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTT, Adi Setiawan, mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya dukungan pembiayaan pemerintah melalui APBN bagi pelaku usaha di daerah.

“Total penyaluran KUR sampai dengan 30 Juni 2026 sebesar Rp1,714 triliun kepada 33.460 debitur, naik Rp350,41 miliar atau 25,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Adi, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, Kota Kupang menjadi daerah dengan penyaluran KUR terbesar, yakni mencapai Rp207,95 miliar kepada 2.363 debitur. Sebaliknya, Kabupaten Sabu Raijua mencatat penyaluran paling rendah, yakni Rp2,25 miliar kepada 48 debitur.

Dari sisi sektor usaha, penyaluran KUR masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran dengan nilai Rp816,35 miliar atau sekitar 47,62 persen dari total penyaluran. Posisi berikutnya ditempati sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar Rp354,92 miliar atau 20,70 persen.

Adi menilai sektor pertanian masih menjadi tantangan sekaligus peluang terbesar dalam pengembangan KUR di NTT karena merupakan tulang punggung perekonomian daerah.

“Sektor yang kita dorong adalah pertanian. Walaupun pertanian dominan dalam struktur ekonomi, memang ada faktor musiman, pertanian lahan kering, curah hujan, semuanya menjadi tantangan bagi aktivitas ekonomi. Tantangan ke depan adalah bagaimana mencocokkan potensi ekonomi dengan potensi pembiayaan,” ujarnya.

KUR Mikro Dominan, BRI Kuasai Penyaluran

DJPb mencatat Bank BRI masih menjadi penyalur KUR terbesar di NTT dengan realisasi mencapai Rp1,416 triliun kepada 31.069 debitur.

READ  Ayah di Kupang Aniaya Bayi 7 Bulan karena Cemburu, Polisi Bergerak Cepat Selamatkan Korban

Sementara itu, berdasarkan jenis pembiayaan, KUR Mikro masih mendominasi dengan nilai Rp1,245 triliun yang disalurkan kepada 31.671 debitur.

Selain pembiayaan usaha, penyaluran KUR Kredit Perumahan (KUR-KPP) juga mencapai Rp172,05 miliar, terdiri atas pembiayaan sisi permintaan (demand) rumah sebesar Rp75,82 miliar kepada 396 debitur, serta pembiayaan sisi penyediaan (supply) rumah sebesar Rp96,23 miliar kepada 52 debitur.

“BRI menjadi penyalur terbesar. Ini menarik karena tidak semua bank memiliki jangkauan hingga ke wilayah-wilayah yang cukup jauh,” kata Adi.

Memasuki semester II 2026, DJPb NTT akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan penyalur untuk meningkatkan penyaluran KUR, khususnya pada sektor-sektor produktif yang memiliki potensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama sektor pertanian. (ST/Ant)

Editor: Agus S

Most Popular