SOE, TTS – Jalan alternatif Kolonakaf di Desa Napi, Kecamatan Ki’e, kembali menjadi sorotan warga. Setiap musim hujan, jalur ini berubah menjadi momok bagi siapa pun yang hendak menuju Oinlasi, SoE, maupun Kupang. Kondisi jalan yang rusak parah membuat perjalanan kerap berubah menjadi drama tarik-menarik kendaraan, motor ditandu, bahkan penumpang terpaksa berjalan kaki demi menghindari kecelakaan.
Sejak ruas utama Kolonakaf diterjang longsor, jalur alternatif tersebut menjadi satu-satunya akses yang bisa dilewati. Namun, tanpa perbaikan berarti, kerusakannya terus memburuk dari tahun ke tahun.
Warga Oinlasi, Nardy Dagonaga, menyebut kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan selalu menjadi bencana kecil setiap kali hujan turun. Ia menggambarkan betapa ekstremnya situasi di lapangan.
“Kalau musim hujan tiba, suasananya sudah pasti tarik-menarik kendaraan, ada mobil yang terpeleset ke got atau jurang, motor ditandu, penumpang jalan kaki. Semua bersungut-sungut tapi tetap lewat karena ini satu-satunya jalan,” ungkapnya.
Nardy menilai wilayah Oinlasi dan sekitarnya memiliki potensi besar dari sisi ekonomi, pendidikan, sumber daya alam, hingga arus transportasi. Jalur Kolonakaf juga menjadi penghubung delapan kecamatan: Amanatun Selatan, Ki’e, Kotolin, Nunkolo, Boking, Noebana, Santian, dan Fautmolo, serta menjadi lintasan angkutan dari arah Malaka.
“Dengan potensi sebesar itu, mengapa jalan Kolonakaf belum jadi perhatian serius eksekutif dan legislator?” tegasnya.
Ia berharap para pemangku kepentingan—khususnya pejabat asal wilayah Kuan Amasat, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif—dapat memperjuangkan perbaikan jalan dari Kolonakaf hingga Oepates agar masyarakat bisa menikmati akses yang layak.
Warga lainnya, Ani Abuss, menambahkan keluhan bernada satir mengenai ekstremnya kondisi jalan.
“Kondisi jalan Kolonakaf saat musim hujan… jadi yang suka nona-nona Oinlasi dong harus siap mental,” ujarnya.
Warga menilai minimnya intervensi pemerintah membuat kerusakan jalan terus terjadi tanpa solusi jelas. Mereka berharap pemerintah melihat urgensi jalur Kolonakaf bukan hanya sebagai akses lokal, tetapi sebagai urat nadi yang menghidupkan aktivitas ekonomi dan sosial di wilayah selatan TTS. Masyarakat kini menanti langkah konkret demi keselamatan dan kesejahteraan bersama. (Sys/ST)

