KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan daerah ini sebagai pelopor transisi energi bersih di Indonesia melalui penyusunan Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan Menuju Net Zero Emission (NZE) 2050.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri Kickoff Meeting penyusunan roadmap yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Hotel Aston Kupang, Selasa (30/6/2026).

Menurut Melki, perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang dirasakan masyarakat NTT. Dampaknya tidak hanya berupa musim kemarau yang semakin panjang, tetapi juga mengancam sektor pertanian, perikanan, ketahanan pangan, hingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

“Perubahan iklim merupakan tantangan global yang dampaknya semakin nyata di NTT. Karena itu, pembangunan ke depan harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan,” ujar Melki.

Di sisi lain, ia mengatakan kebutuhan energi di NTT akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, pengembangan kawasan industri, sektor pariwisata, hilirisasi sumber daya alam, dan meningkatnya kualitas hidup masyarakat.

“Tantangan kita adalah memastikan kebutuhan energi tersebut dapat dipenuhi melalui sistem ketenagalistrikan yang andal sekaligus rendah emisi karbon,” tegasnya.

Melki menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan visi NTT Net Zero Emission 2050 sebagai bagian dari komitmen membangun daerah yang rendah karbon dan berketahanan iklim. Karena itu, penyusunan roadmap dekarbonisasi menjadi langkah penting untuk memetakan kebutuhan listrik, potensi energi terbarukan, hingga strategi implementasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan.

Ia juga menegaskan NTT memiliki kekayaan sumber energi baru terbarukan (EBT), mulai dari tenaga surya, angin, air, hingga panas bumi. Salah satu contohnya adalah Pulau Sumba yang telah dikenal sebagai pelopor pengembangan Sumba Iconic Island, dengan pemanfaatan energi surya, mikrohidro, biomassa, dan angin.

READ  Baku Hantam Remaja di Alak Tak Berlanjut ke Jalur Hukum

“Potensi ini merupakan modal strategis untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan. Selain meningkatkan akses listrik hingga ke pulau-pulau kecil, juga membuka peluang investasi hijau, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan memperkuat ketahanan energi daerah,” katanya.

Sementara itu, Manager Program NTT NZE 2050 IESR, Muhammad Maghribul Falah, mengatakan hasil kajian IESR menunjukkan NTT memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, dengan potensi tenaga surya mencapai lebih dari 338 GWp dan tenaga angin lebih dari 20 GW.

Menurutnya, penyusunan Roadmap Dekarbonisasi Sektor Ketenagalistrikan menjadi langkah strategis untuk mendukung target Net Zero Emission 2050 sekaligus mempercepat pemanfaatan energi bersih di NTT. (Sys/ST)

Most Popular